Usai Tembak Tiga Warga Sipil, OPM Diburu TNI hingga Perbatasan Yahukimo-Boven Digoel Papua

Jakarta, IDM – Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) III menegaskan tindakan tegas Satgas TNI terhadap kelompok bersenjata Organisasi Papua Merdeka (OPM) dilakukan sesuai hukum, aturan operasi, serta Rules of Engagement (ROE).
Hal itu diungkapkan Panglima Kogabwilhan III Letjen TNI Lucky Avianto setelah personel TNI diserang saat menjalankan misi kemanusiaan mengevakuasi korban pembunuhan di Papua.
Lucky menjelaskan insiden bermula ketika Satgas TNI melaksanakan evakuasi jenazah pasangan suami istri, Kumis Tua Kogoya atau Yantinus beserta istrinya, yang ditemukan tewas secara mengenaskan setelah diduga ditembak kelompok OPM.
Kemudian, prajurit TNI berhasil mengevakuasi jasad korban di tengah ancaman keamanan yang tinggi.
Baca Juga: Pitch Black 2026, Penerbang TNI AU Asah Kemampuan Manuver hingga Taktik Tempur Udara dalam DACT
Namun, proses kemanusiaan tersebut berubah menjadi kontak tembak ketika kelompok OPM melancarkan serangan terhadap personel TNI.
Pasukan kemudian memberikan balasan dan melakukan pengejaran terhadap kelompok bersenjata hingga wilayah perbatasan Kabupaten Yahukimo dan Boven Digoel.
Saat pengejaran berlanjut di sekitar Kampung Kali Fis, Distrik Awingbon, Kabupaten Pegunungan Bintang, aparat berupaya menangkap anggota kelompok tersebut.
Namun, menurut Panglima Kogabwilhan III, kelompok OPM justru melepaskan tembakan secara membabi-buta ke arah personel TNI.
Situasi tersebut memaksa Satgas TNI mengambil tindakan tegas sesuai ketentuan hukum nasional maupun prosedur operasi militer yang berlaku.
Baca Juga: KRI Pulau Fani Uji Meriam Searanger 20 MM di Laut Jawa, 20 Amunisi Meluncur
"Saat hendak ditangkap di sekitar Kampung Kali Fis, kelompok OPM tiba-tiba menembak personel TNI dengan membabi-buta, sehingga Satgas TNI mengambil tindakan tegas berdasarkan undang-undang serta peraturan yang berlaku, serta Rules of Engagement (ROE), untuk memastikan tindakan yang kami lakukan tepat dan menjunjung tinggi hukum dan HAM," tegas Letjen TNI Lucky Avianto.
Dalam operasi itu satu anggota kelompok OPM dilaporkan tewas.
Dari noken yang dibawanya, aparat menemukan 11 butir peluru tajam, sebuah telepon seluler, serta sejumlah barang lainnya yang kini menjadi barang bukti.
Sementara itu, senjata api yang diduga digunakan kelompok tersebut untuk membunuh tiga warga Yahukimo sekaligus menyerang personel TNI saat proses evakuasi disebut berhasil dibawa kabur oleh anggota kelompok lainnya.
Panglima Kogabwilhan III menyebut keselamatan masyarakat sipil tetap menjadi prioritas utama dalam setiap operasi yang dilaksanakan TNI di Papua.
Baca Juga: Tiba di Rusia, Kapal Perang TNI AL KRI GNR-332 Merapat Buat Latihan Orruda Kedua
Ia menekankan tindakan prajurit selalu berlandaskan prinsip salus populi suprema lex esto, yakni keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi.
"Kami tidak akan pernah ragu mengambil tindakan tegas ketika berhadapan dalam situasi mendesak. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi yang menjadi pedoman utama kami dalam setiap operasi," ujarnya.
Lucky menyampaikan ultimatum kepada seluruh anggota TPNPB-OPM agar menghentikan aksi kekerasan terhadap masyarakat sipil, meletakkan senjata, dan kembali ke pangkuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Ia menegaskan TNI tetap mengedepankan penegakan hukum, perlindungan masyarakat, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia dalam setiap pelaksanaan tugas operasi di wilayah Papua.
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































