Turki Dukung Azerbaijan Bangkit dari Perang Nagorno-Karabakh

IDM- Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bertemu dengan Presiden Azerbaijan Ilham Aliyev di Jabrayil, Azerbaijan, Kamis (20/10). Dalam pertemuan tersebut, Turki berkomitmen untuk terus membantu Azerbaijan dalam upaya mencapai perdamaian dengan Armenia, sekaligus membangun kembali wilayah yang terdampak perang.
Dilansir dari Tccb.gov.tr, sebuah laman resmi Pemerintah Turki, Kamis (20/10), Erdogan mengatakan bahwa Turki mendukung “Proses normalisasi hubungan antara Azerbaijan dan Armenia yang bergerak maju dan saling melengkapi. Sangat penting untuk menggunakan peluang yang terbuka dengan benar.”
Dalam pertemuan tersebut, kedua pemimpin membahas perihal sejarah dan dampak dari perang yang terjadi di beberapa wilayah. Jabrayil, tempat pertemuan itu digelar, merupakan salah satu wilayah yang direbut kembali dari Armenia.
Erdogan memberikan apresiasi atas perkembangan pesat di wilayah yang terdampak perang Nagorno-Karabakh. Selain kesuksesan di Jabrayil, Azerbaijan juga telah berhasil membangun bandara internasional dalam kurun waktu dua tahun di Zangilan.
Erdogan pun mengatakan bahwa Turki siap mendukung Azerbaijan di semua sektor, terutama di bidang pertanian, energi hijau dan kota pintar dalam pemulihan wilayah yang terdampak perang.
Aliyev menyambut komitmen Turki tersebut serta menegaskan bahwa Turki merupakan salah satu mitra pertahanan penting di kawasan. Hubungan bilateral antar negara ini menjadi salah satu faktor yang dapat menciptakan perdamaian dan stabilitas dengan Armenia.
“Persatuan Turki-Azerbaijan merupakan faktor yang sangat penting di kawasan. Ini adalah faktor perdamaian dan stabilitas. Tetapi, pada saat yang sama, jika seseorang masih ingin bertindak tidak adil terhadap kita, tentu saja, mereka harus mempertimbangkan dengan serius faktor ini,” ujar Aliyev.
Hubungan antara negara bekas Uni Soviet ini telah terjadi sejak tahun 1991. Mereka memperebutkan wilayah Nagorno-Karabakh, sebuah daerah diakui internasional sebagai wilayah Azerbaijan, namun di duduki oleh Armenia. Pada tahun 2020, mereka berperang selama enam minggu dan menewaskan hampir 7.000 korban. Perang tersebut berakhir dengan genjatan senjata yang ditengahi Rusia dan mereka sepakat untuk berdamai dan mencari resolusi non-militer untuk menyelesaikan masalah tersebut. Tapi ternyata konflik kembali memanas dengan adanya penembakan di wilayah perbatasan kedua negara pada September lalu. (BP)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































