TNI AL Riset Kapal Selam Nirawak KSOT Berbasis AI

Jakarta, IDM – Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) mematangkan proyeksi teknologi bawah air masa depan Indonesia. Proyeksi ini berfokus pada analisis kapabilitas Kapal Selam Otonom dan Torpedo (KSOT) yang memanfaatkan integrasi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI)
Langkah ini diambil untuk merespons pergeseran lanskap geopolitik dan percepatan teknologi militer dunia. Untuk membedah potensi sistem kemudi tanpa awak tersebut, tim peneliti dosen dari Seskoal menggelar riset lapangan di Kota Semarang dan Kota Surabaya.
Seskoal membidik Surabaya sebagai pusat observasi utama riset lanjutan ini. Kota Pahlawan menjadi episentrum ekosistem teknologi bawah air nasional berkat keberadaan galangan kapal PT PAL Indonesia, Komando Armada (Koarmada) II, serta Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL).
Baca Juga: TNI Perkuat Ketahanan Pangan lewat Panen Cabai di Wilayah Perbatasan
Penguasaan alutsista mandiri berbasis teknologi otonom kini menjadi kebutuhan mutlak bagi matra laut untuk mengantisipasi ancaman perang asimetris modern.
"Akselerasi teknologi militer telah mengantarkan kita ke ambang era peperangan modern yang didominasi oleh sistem otonom, kecerdasan buatan, serta peperangan asimetris," ungkap Komandan Seskoal Laksda TNI Ariantyo Condrowibowo, dikutip dari keterangan Pen Seskoal, Rabu (8/7).
Alih-alih sekadar mengikuti tren global, penguasaan teknologi mutakhir ini menjadi penentu kekuatan jajaran armada laut nasional.
"Kehadiran kapal selam nirawak (unmanned underwater vehicles/UUV) dan pengembangan sistem torpedo mutakhir bukan lagi sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak dalam postur pertahanan laut masa depan," tegas Ariantyo.
Hasil kajian strategis dari lapangan ini nantinya menjadi landasan kebijakan bagi pimpinan TNI AL dalam menentukan arah pengembangan serta belanja alutsista pada masa mendatang.
Riset intensif Seskoal ini memperkuat posisi militer Indonesia yang sebelumnya telah menguji coba purwarupa KSOT buatan PT PAL Indonesia di perairan Surabaya. Kapal selam mini sepanjang 15 meter tersebut sukses mengeksekusi uji tembak torpedo dari kedalaman periskop menuju sasaran sejauh 250 meter.
Kementerian Pertahanan (Kemhan) memproyeksikan pengadaan hingga 30 unit KSOT bernavigasi AI ini untuk menjaga titik-titik penyempitan strategis (choke point) di perairan nasional. Selain memodernisasi taktik tempur, akselerasi teknologi nirawak ini menjadi strategi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Muhammad Ali untuk memangkas penggunaan bahan bakar minyak (BBM) operasional armada patroli konvensional, menyusul arahan efisiensi energi dari Presiden Prabowo Subianto.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































