HANKAM

TNI AL Petakan Jalur Tikus Penyelundup, Selat Malaka hingga Papua jadi Atensi Khusus

Pangkoarmada RI Laksdya Denih
Pangkoarmada RI Laksdya Denih (kanan) saat konferensi pers di Jakarta, Selasa (12/5). (IDM/Faisal Ramadhan)

Jakarta, IDM – TNI AL memperketat pengawasan di sejumlah titik strategis perairan Indonesia untuk menekan angka kejahatan di laut. Upaya ini mencakup pemetaan menyeluruh terhadap jalur-jalur ilegal atau 'jalur tikus' yang membentang dari Selat Malaka hingga wilayah perairan Papua.

Langkah taktis tersebut menjadi bagian dari komitmen Komando Armada (Koarmada) RI dalam mendukung program Asta Cita pemerintah untuk memperkuat kedaulatan negara. TNI AL kini mengarahkan fokus pada area dengan tingkat kerawanan tinggi guna menjamin keamanan jalur pelayaran nasional maupun internasional.

"Kami memetakan kembali seluruh titik rawan yang menjadi pintu masuk aktivitas ilegal. Pengawasan ketat kami lakukan mulai dari perairan barat di Selat Malaka, jalur lintas kepulauan, hingga ke wilayah timur Papua untuk memastikan tidak ada celah bagi penyelundupan," tegas Panglima Koarmada (Pangkoarmada) RI Laksdya Denih Hendrata di Jakarta, Selasa (12/5).

Baca Juga: Perkuat Kesiapan Operasi Modern, TNI AU Gelar Latihan Perang Siber dan Informasi

Fokus di Jalur Strategis Nasional

Peningkatan pengawasan menyasar wilayah-wilayah yang memiliki dinamika ancaman tinggi. Jalur strategis seperti Selat Malaka tetap menjadi prioritas karena intensitas lalu lintas kapal yang sangat padat. Selain itu, perhatian khusus diberikan pada wilayah ALKI (Alur Laut Kepulauan Indonesia), yakni jalur laut yang ditetapkan untuk pelayaran dan penerbangan internasional melalui perairan kepulauan Indonesia.

Peta kerawanan tersebut mencakup sejumlah titik krusial, seperti Selat Malaka dan Selat Singapura yang menjadi atensi utama karena risiko penyelundupan barang konsumsi dan narkotika. Kemudian, perairan Natuna fokus pada perlindungan sumber daya alam dan pencegahan infiltrasi kapal asing.

Selain itu, pengawasan di wilayah timur Indonesia diperketat di sekitar perairan Papua untuk membendung perdagangan ilegal hasil hutan dan satwa langka.

Baca Juga: Kejanggalan Kasus Timah 16 Ton di PIK, TNI AL Endus Modus ‘Pinjam Bendera’ Dokumen Lelang

Optimalisasi Teknologi dan Regulasi

TNI AL tidak hanya mengandalkan patroli fisik, tetapi juga mengintegrasikan teknologi deteksi dini melalui pemantauan satelit dan radar. Hal ini bertujuan untuk menciptakan kesiapsiagaan operasional atau kondisi kesiapan penuh pasukan dalam merespons ancaman secara cepat dan tepat.

Selain pengerahan armada, TNI AL juga terus mendorong pembaruan regulasi untuk memperkuat penegakan hukum di laut. Sinergi dengan instansi keamanan lainnya menjadi kunci utama dalam memutus rantai distribusi barang ilegal yang merugikan ekonomi nasional.

"Pembaruan strategi ini sangat penting untuk mengantisipasi pergeseran modus operandi pelaku kejahatan yang semakin canggih. Kami memastikan seluruh aset berada di posisi terbaik untuk menjaga kekayaan laut Indonesia tetap aman," pungkas Denih. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.