TNI AL Perluas Fungsi Simulasi Geladak Kapal Induk, Operasikan Heli untuk Misi SAR dan Logistik

Jakarta, IDM – Media simulasi geladak helikopter milik Skuadron Udara 100 Puspenerbal ternyata tidak hanya disiapkan untuk pertempuran laut. Fasilitas instruksi terbaru ini memiliki rancangan fleksibel untuk menggembleng penerbang dalam menjalankan beragam skenario misi kemanusiaan dan bantuan logistik lintas samudra.
Langkah ini menunjukkan, TNI AL tengah memperluas kapabilitas proyeksi kekuatan (power projection) menuju angkatan laut lintas samudra atau blue water navy. Persiapan ini berkaitan erat dengan rencana akuisisi kapal induk asal Italia, ITS Giuseppe Garibaldi, yang akan difungsikan sebagai pusat komando dan pangkalan udara bergerak di laut lepas.
Baca Juga: 100 Tamtama TNI AD Resmi Alih Status Menjadi Bintara
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma TNI Tunggul menjelaskan, keterpaduan unsur udara dan laut ini krusial, terutama saat menjalankan misi pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR). Simulasi pendaratan dibuat sedemikian rupa agar personel mahir mengoperasikan berbagai tipe burung besi, baik untuk memburu kapal selam maupun mengevakuasi korban bencana.
"Simulasi ini dirancang dari awal agar cukup fleksibel dalam mendukung pelatihan berbagai tipe helikopter, baik untuk misi ASW (Anti-Kapal Selam), SAR, MEDEVAC, logistik, maupun operasi maritim lainnya," ujar Tunggul kepada Indonesia Defense Magazine di Jakarta, Kamis (14/5).
Optimalisasi fasilitas di Skuadron 100 ini mempertegas evolusi unit sayap udara (air wing) TNI AL yang kini makin dinamis. Kekuatan udara tersebut dapat dikerahkan kapan saja dari geladak kapal induk untuk merespons bencana alam maupun krisis kemanusiaan jarak jauh, tanpa harus bergantung pada pangkalan di daratan.
Baca Juga: Indonesia-Singapura akan Gelar Latma Safkar Indopura ke-38, Ini Lokasinya
Kesiapan multimisi ini juga menjadi modal penting bagi awak pesawat tanpa awak (drone) guna memastikan sinergi operasional yang matang. Kemampuan adaptif personel menjadi bekal berharga sebelum kapal induk yang mampu mengangkut hingga 500 kru inti tersebut resmi bersandar dan memperkuat kedaulatan maritim Indonesia pada 2026 mendatang.
Meski kematangan personel dan teknologi simulasi terus dipacu, pihak TNI AL menegaskan, penetapan identitas atau nama resmi untuk calon kapal perang baru tersebut masih berada dalam tahap pengkajian mendalam. TNI AL belum mengeluarkan keputusan final mengenai identitas resmi kapal yang akan menjadi simbol baru kekuatan laut Indonesia itu. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































