TNI AL Kurangi KRI di NTT, KSAL Kirim Zeni Marinir Bantu Rekonstruksi

Jakarta, IDM – TNI AL mulai menarik bertahap pengerahan kapal perang (KRI) dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Penarikan dilakukan seiring bergesernya penanganan bencana dari fase tanggap darurat ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.
Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali menegaskan, penanganan pascabencana di NTT kini berfokus pada pemulihan fisik dan fasilitas warga. Oleh karena itu, pengerahan kapal perang akan digantikan oleh pasukan khusus konstruksi matra laut.
Baca Juga:
"Untuk penanganan bencana di NTT, TNI AL sebelumnya mengerahkan sampai lima KRI. Karena sekarang sudah masuk tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi, jumlah KRI mulai kita kurangi," kata Ali usai memimpin apel siaga HUT ke-81 TNI AL di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (10/9).
Ali menjelaskan, fokus operasi di lapangan saat ini memerlukan tenaga ahli bangunan serta peralatan teknik. Kehadiran prajurit Zeni Marinir dinilai lebih efektif untuk mempercepat pemulihan kawasan terdampak.
"Nanti yang kita kirim sebagai penambahan adalah pasukan Marinir, khususnya Zeni Marinir. Mereka yang akan membantu langsung program rehabilitasi dan rekonstruksi," ujar Ali.
Instruksi Presiden Soal Karhutla Gambut
Selain penanganan bencana di NTT, Ali menyoroti pengerahan prajurit dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan dan Sumatra. Ia memerintahkan jajarannya terus bersiaga di lokasi terdampak sampai titik api benar-benar padam, terutama di kawasan tanah gambut.
"Ini perintah langsung dari bapak presiden. Penanganan karhutla, terutama di lahan gambut, harus dilakukan sampai tuntas. Walau api di permukaan sudah padam, bagian bawahnya masih panas dan terus mengeluarkan asap," tegas Ali.
Baca Juga:
Peringatan HUT ke-81 TNI AL di Surabaya tahun ini sengaja digelar bersahaja tanpa demonstrasi atau pameran alutsista. Seluruh peserta upacara mengenakan pakaian dinas lapangan (PDL) sebagai penanda kesiapsiagaan operasional penuh.
Sederet kendaraan taktis pasukan khusus beserta tiga kapal perang, KRI Raden Eddy Martadinata-331, KRI Prabu Siliwangi-321, dan KRI Brawijaya-320, turut disiagakan membentangi pasukan apel sebagai latar kesiapsiagaan bencana nasional.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































