HANKAM

TNI AL Kirim 3 Penerbang ke Turki, Belajar Jinakkan Pesawat dalam Kondisi Bahaya

Tiga penerbang Puspenerbal
Tiga penerbang Puspenerbal merampungkan pelatihan simulator darurat ekstrem CN235 di Ankara, Turki, Sabtu (11/4). Pelatihan ini bertujuan memperkuat kesiapan menghadapi situasi krisis di udara. (Foto: Dok. Puspenerbal)

Jakarta, IDM – Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) mengutus tiga delegasi terbaiknya terbang ke Ankara, Turki. Ketiga penerbang tersebut mengemban misi strategis untuk menaklukkan simulasi krisis tingkat tinggi pada pesawat CN235 di fasilitas Havelsan training service.

Para perwira yang dikirim adalah Letkol Laut (P) Bani Safangat, Letkol Laut (P) Candra Tri, dan satu penerbang perempuan Lettu Laut (P/W) Rineke Avi. Selama sepekan, mulai 4–11 April, mereka mengasah ketangkasan di markas Angkatan Udara Turki untuk menguasai kualifikasi internasional personel Wing Udara 2.

Latihan Skenario 'Hidup-Mati'

Pelatihan ini berfokus pada penanganan situasi risiko tinggi (high-risk) yang mustahil dipraktikkan langsung menggunakan pesawat asli. Menggunakan simulator Level D yang mampu menciptakan gerak sangat realistis, para pilot TNI AL ini dipaksa menghadapi skenario dua mesin mati sekaligus saat terbang (Two Engine Fail in Flight).

Baca Juga: Ikrar Prajurit di HUT ke-74 Kopassus, Komitmen Mengabdi untuk Bangsa

Dalam kondisi tanpa daya dorong tersebut, mereka harus menjaga rasio meluncur (gliding ratio) pesawat agar tetap stabil. Tak hanya itu, para penerbang juga menguji nyali saat menangani kegagalan sistem hidrolik hingga melakukan pendaratan darurat di tengah terjangan angin kencang dari samping (Cross Wind) berkecepatan 20 knots.

Penguasaan materi teknis seperti mesin mendadak mati setelah lepas landas (Engine Flame Out After Take Off) dirancang untuk mempertajam ingatan otot (muscle memory). Harapannya, setiap anomali aerodinamika di medan maritim dapat diatasi dengan tenang, presisi, dan terukur.

Investasi SDM untuk Keamanan Maritim

Komandan Puspenerbal Laksda Bayu Alisyahbana, menegaskan kecanggihan alutsista harus dibarengi dengan keandalan awaknya. Ia menyebut investasi pada kompetensi manusia adalah pilar utama kekuatan udara maritim modern.

Baca Juga: Lanud Dhomber Siap Mendukung Pelaksanaan Latgabma Super Garuda Shield 2026

"Kami mengirimkan putra-putri terbaik ke Ankara agar mereka memiliki standar profesionalisme baru. Fokus kita bukan hanya hebat saat operasional normal, melainkan harus tangguh dan andal saat menghadapi situasi krisis di cakrawala Nusantara," ujar Bayu, dikutip dari keterangan Pen Puspenerbal, Senin (20/4).

Senada dengan itu, Komandan Wing Udara 2 Kolonel Laut (P) Oscar Johanes Novie, menginstruksikan agar ilmu yang didapat dari Turki segera diintegrasikan ke dalam prosedur operasional standar skuadron. Langkah ini menjadi komitmen nyata Puspenerbal dalam mentransformasi kekuatan udara yang siap menghadapi segala risiko di medan tugas. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.