HANKAM

TNI AL Kerahkan 2 Kapal Perang ke Samudra Pasifik, Ada Apa?

Bidikan meriam KRI TNI AL
Bidikan meriam KRI TNI AL saat menggelar manuver latihan peran tempur bahaya kapal permukaan di perairan Samudra Pasifik, Jumat (3/4). (Foto: Dok. Koarmada III)

Jakarta, IDM – TNI AL mengerahkan dua kapal perang, KRI Hampala-880 dan KRI Gulamah-869, menuju perairan Selat Dampier hingga menembus Samudra Pasifik, Jumat (3/4).

Pengerahan dua unsur di bawah kendali operasi Gugus Keamanan Laut (Guskamla) Koarmada III ini merupakan bagian dari manuver latihan bersama di tengah pelaksanaan Operasi Keamanan Laut (Opskamla) 2026. Langkah tersebut bertujuan mempertajam kesiapsiagaan operasi serta profesionalisme prajurit dalam menjaga kedaulatan laut NKRI.

Komandan Guskamla Koarmada III Laksamana Pertama Elmondo Samuel Sianipar, memimpin langsung jalannya latihan dari atas geladak KRI Hampala-880. Ia menegaskan pentingnya koordinasi antarunsur saat menghadapi ancaman nyata di lapangan.

Baca Juga: Kronologi KRI Beladau-643 Amankan Kapal Kargo Bermuatan CPO Ilegal di Dumai

"Kegiatan ini menjadi sarana mengasah kemampuan taktis personel. Kami ingin memastikan koordinasi antar-KRI tetap solid dalam merespons berbagai potensi gangguan keamanan di laut," ujar Elmondo, dikutip dari keterangan Dispenal, Senin (6/4).

Sepanjang latihan, para prajurit melahap berbagai materi teknis yang krusial. Salah satunya adalah latihan melewati medan ranjau (Minefield Transit) serta komunikasi isyarat bendera (Flag Hoist) untuk menjaga kerahasiaan informasi antarkapal.

Bidikan meriam KRI TNI AL
Prajurit kapal perang TNI AL dengan sigap melakukan pengamatan visual dan komunikasi isyarat bendera terhadap kapal kawan saat latihan bersama. (Foto: Dok. Koarmada III)

Tak hanya itu, kedua KRI juga mempraktikkan teknik mendekat antarkapal saat berlayar atau Replenishment at Sea Approach (RASAP). Prosedur ini sangat penting untuk pengiriman logistik maupun bahan bakar di tengah laut tanpa harus bersandar ke pelabuhan.

Situasi di atas kapal sempat menegang saat prajurit menggelar simulasi peran tempur menghadapi bahaya kapal permukaan. Personel juga diuji dalam peran penyelamatan kapal (PEK), yakni prosedur darurat untuk menangani kebakaran atau kebocoran akibat serangan musuh maupun kecelakaan laut.

Baca Juga: Kodiklatau Matangkan Perencanaan Latihan Angkasa Yudha 2026

"Prajurit harus sigap dalam situasi tempur maupun kondisi darurat. Latihan ini memastikan mereka siap menghadapi skenario terburuk di tengah samudra," tegas Elmondo.

Aksi ini merupakan pengejawantahan dari instruksi Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali yang menekankan peningkatan kesiapan operasional adalah harga mati bagi setiap prajurit untuk membentengi wilayah perairan nasional.

Usai merampungkan serangkaian latihan berat, KRI Hampala-880 dan KRI Gulamah-869 langsung melanjutkan tugas patroli di sektor masing-masing. Kehadiran kapal perang ini diharapkan mampu mempersempit ruang gerak pelaku pelanggaran hukum di wilayah perairan Indonesia Timur.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.