HANKAM

TNI AL Evaluasi 154 Jenis Kapal Perang, Kapusjianmar Soroti Pentingnya Efisiensi Armada

KRI Brawijaya-320
KRI Brawijaya-320, kapal perang terbaru TNI AL dari Italia. (Foto: Dok. Kemhan)

Jakarta, IDM – TNI AL tengah mematangkan langkah transformasi menuju kekuatan angkatan laut kelas dunia atau Blue Water Navy. Dalam proses ini, Kepala Pusat Pengkajian Maritim (Kapusjianmar) TNI AL, Laksma Salim, menekankan pentingnya efisiensi dan standarisasi armada kapal perang Indonesia.

Salim memaparkan tantangan logistik yang muncul akibat banyaknya variasi jenis kapal dalam jajaran armada saat ini. Saat ini, TNI AL mengoperasikan sekitar 154 jenis kapal perang yang berasal dari berbagai negara produsen dan generasi yang berbeda.

"TNI AL mengelola 154 jenis kapal dengan usia yang beragam, mulai dari kapal baru hingga yang sudah beroperasi selama 30 tahun. Kondisi ini memberikan tantangan logistik yang cukup besar bagi kita," ujar Salim dalam diskusi strategis di Jakarta, baru-baru ini.

Baca Juga: Bukan ALKI, Perairan di Timur RI Ini Jadi Jalur ‘Favorit’ Kapal Selam Asing

Salim menjelaskan, keberagaman jenis kapal tersebut menuntut penanganan teknis dan ketersediaan suku cadang yang sangat spesifik. Ia mendorong agar ke depannya Indonesia melakukan standarisasi teknologi untuk mempermudah perawatan dan meningkatkan kesiapan operasional kapal.

Sebagai gambaran, Salim mencontohkan proses integrasi teknologi pada kapal perang. Menurutnya, menyatukan sistem dari produsen negara yang berbeda membutuhkan ketelitian dan energi yang besar agar seluruh perangkat bisa bekerja secara harmonis.

"Kita lebih membutuhkan jenis kapal yang jumlahnya efisien namun memiliki kapabilitas atau kemampuan tempur yang tinggi," tegas jenderal bintang satu tersebut.

Dalam kesempatan itu, Salim juga membagikan catatan sejarah saat konflik Timor Timur pada 1999 sebagai pelajaran penting dalam pengembangan teknologi. Kala itu, saluran komunikasi radio kapal perang Indonesia sempat mengalami gangguan keamanan.

Kondisi tersebut memaksa para prajurit TNI AL menggunakan bahasa daerah seperti Jawa atau Madura saat berkoordinasi. Langkah kreatif ini terpaksa diambil agar pihak lain tidak mudah memahami instruksi tempur yang sedang berjalan.

Baca Juga: Danlanud Sri Mulyo Herlambang Resmikan Dapur SPPG Ketiga

"Pengalaman tersebut menyadarkan kita akan pentingnya memiliki sistem komunikasi yang mandiri dan tangguh," ucapnya.

Salim mendorong penerapan Smart Procurement atau strategi pengadaan cerdas yang berfokus pada teknologi C6ISR. Sistem ini merupakan jaringan digital terpadu yang menyatukan komando, radar, hingga intelijen dalam satu sistem saraf pintar.

Dengan memperkuat sistem saraf digital ini, armada kapal perang Indonesia akan memiliki koordinasi yang lebih akurat dan perlindungan data yang lebih aman. Salim berharap transformasi ini mampu memperkuat kedaulatan maritim Indonesia di masa depan dengan armada yang modern, efisien, dan memiliki daya gentar yang tinggi. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.