TNI AL Datangi Warga Talaud, Janji Tindak Tegas Prajurit Bermasalah

Jakarta, IDM – TNI AL bergerak cepat merespons dinamika sosial yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Talaud. Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) VIII, Laksamana Muda Dery Triesananto Suhendi, mendatangi langsung tokoh masyarakat dan agama di Melonguane.
Pertemuan strategis ini berlangsung di Kantor Bupati Melonguane, Kepulauan Talaud, Selasa (27/1). Bupati Kepulauan Talaud, Welly Titah, turut mendampingi dalam kegiatan tatap muka tersebut.
Dery menjelaskan, kedatangannya bertujuan membangun komunikasi terbuka dan mendinginkan suasana (cooling system). Ia ingin memastikan situasi keamanan dan ketertiban di wilayah perbatasan tersebut tetap kondusif.
Dalam kesempatan itu, Dery menegaskan komitmen institusinya untuk bersikap profesional dan tidak menutup diri terhadap kritik masyarakat.
Baca Juga: 40 Lokasi Pendaftaran Prajurit Karier TNI, Ini Detailnya
"Kami berkomitmen untuk selalu profesional dan transparan. TNI AL sangat terbuka terhadap masukan dari masyarakat terkait permasalahan yang terjadi," ujar Dery di hadapan para tokoh adat, dikutip dari keterangan Dispenal, Rabu (28/1).

Pastikan Proses Hukum Berjalan
Terkait insiden yang melibatkan anggota TNI AL, Dery memberikan jaminan tidak akan ada yang ditutup-tutupi. Pihaknya berjanji menegakkan aturan tanpa pandang bulu.
"Setiap permasalahan yang melibatkan oknum prajurit TNI AL, kami pastikan penanganannya tegas, objektif, dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku," tegasnya.
Ia pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga suasana damai dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan setiap kesalahpahaman.
Baca Juga: Pemulihan Pascabencana, Pusgeosau Lakukan Pemotretan Udara Wilayah Terdampak di Sumbar
Para tokoh masyarakat Melonguane menyambut baik langkah jemput bola ini. Mereka mengapresiasi respons cepat TNI AL melalui Kodaeral VIII yang bersedia mendengar langsung aspirasi warga demi menjaga persatuan di Kepulauan Talaud.
Pengeroyokan Guru oleh Oknum Prajurit TNI AL
Sebelumnya, kasus pengeroyokan terhadap seorang guru SMK di Talaud oleh oknum prajurit TNI AL menjadi sorotan publik.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto memastikan jajaran Pusat Polisi Militer (Puspom) menindak lima prajurit TNI AL yang terlibat dalam insiden tersebut. Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali juga telah mengambil langkah tegas.
"Ya ke dalamnya nanti akan diproses, kemudian ke luarnya sudah minta maaf ke keluarganya," ujar Agus di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/1).
Baca Juga: TNI AU Siapkan Tiga Skadron untuk Pesawat Tempur Rafale
Agus menegaskan, sanksi tegas menanti para pelanggar aturan. Saat ini, Puspom TNI dan Puspom TNI AL tengah memproses hukum kelima prajurit tersebut.
"Pokoknya kalau berbuat yang tidak sesuai, akan kami tindak tegas ya. Masih banyak prajurit yang baik," kata Agus.
Insiden pengeroyokan terjadi di kawasan Pelabuhan Melonguane, Kamis (22/1) sekitar pukul 23.30 Wita. Kejadian bermula saat korban menegur lima prajurit TNI AL yang sedang berkaraoke larut malam, namun teguran itu tidak diindahkan. TNI AL kini telah menahan kelima prajurit Lanal Melonguane tersebut. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































