TNI AD Tanam 9.292 Pohon di Lahan Seluas 70 Hektare

Jakarta, IDM – Sebanyak 2.021 personel TNI AD melakukan penanaman pohon serentak sebanyak 9.292 pohon di Markas Divisi Infanteri 3 Kostrad, Pakatto, Gowa, Sulawesi Selatan, Senin (16/12). Kegiatan ini dipimpin langsung Panglima Kostrad (Pangkostrad) Letnan Jenderal TNI Mohamad Hasan.
"Kegiatan ini tidak hanya bermanfaat bagi lingkungan, tetapi juga sebagai upaya membangun sinergi antara TNI AD dan masyarakat, sekaligus mendukung program ketahanan pangan nasional,” ujar Hasan dalam sambutannya seperti dikutip keterangan Penkostrad, Selasa, (17/12).
Baca Juga: Sebanyak 43 Prajurit Wanita TNI AD Lulus Standarisasi Cakra, Digembleng Sebulan di Jatiluhur
Bibit-bibit pohon ini ditanam di lahan seluas 70 hektare, terdiri dari pohon keras seperti ebony untuk menjaga stabilitas ekosistem dan pohon buah-buahan, antara lain pisang Cavendish, sukun, mangga, sirsak, langsat, nangka, durian, dan rambutan. Pohon buah ini diharapkan dapat mendukung ketahanan pangan masyarakat sekitar.
Selain penanaman pohon, kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat dan prajurit TNI mengenai pentingnya menjaga keseimbangan alam demi masa depan yang lebih baik. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































