TNI AD Paling Besar Kirim Pasukan ke Gaza, Total 60 Persen

Jakarta, IDM – Terkait rencana pengiriman pasukan ke Gaza, Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Kolonel Inf Donny Pramono menyebut jumlah personel TNI AD paling banyak.
"Untuk kontribusi personel, rencana awal memproyeksikan bahwa dari total sekitar 20.000 pasukan perdamaian, porsi TNI AD berada pada kisaran 60 persen, sementara TNI AL dan TNI AU masing-masing 25 persen dan 15 persen," kata Donny di Jakarta, Rabu (26/11).
Baca Juga: TNI AD akan Siapkan Batalion Bantuan untuk Misi ke Gaza, Ini Tugasnya
Namun demikian, lanjut Donny angka final akan ditetapkan secara resmi oleh Mabes TNI sesuai perkembangan situasi dan kebutuhan misi.
Ia menegaskan bahwa TNI AD sepenuhnya siap mendukung apa yang menjadi keputusan negara dalam misi kemanusiaan ini, dan seluruh prosesnya terus dipersiapkan dengan cermat, hati-hati, serta terintegrasi dengan dua matra lainnya.
Baca Juga: Presiden Prabowo dan Menhan Sjafrie Sambangi Mabes TNI, Bahas Percepatan Kopdes Merah Putih
"Kami memastikan bahwa setiap langkah tetap berada dalam satu komando dan satu kebijakan, sehingga apa yang disampaikan kepada publik pun seragam dan akurat," kata Donny. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































