TNI AD Kirim Helikopter MI-17V5 dan 10 Prajurit ke Filipina

Jakarta, IDM – Guna membantu pemulihan wilayah yang terdampak badai tropis Kristine (Trami) di wilayah Bicol, Filipina, Senin, (28/10), TNI AD melalui Puspenerbad yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Operasi Penanggulangan Bencana Alam mengirimkan 1 Unit helikopter MI-17V5, nomor registrasi HA-5140 dan 10 orang prajurit.
Dilansir keterangan dari Penerangan Puspenerbad, Selasa, (29/10) para prajurit ini berasal dari Skadron 31/Amur Yudha Cakti yang dipimpin oleh Komandan Pesawat Kapten Cpn Dicky Yudha Satria.
Operasi penanggulangan bencana alam ini dilaksanakan selama 14 dalam membantu pemulihan pasca bencana alam di Filipina.
Baca Juga: Tiba di Lanud Supadio, Delegasi TNI AU dan RSAF Bersiap Jelang AMX Latma Camar Indopura 2024
Berikut daftar 10 prajurit TNI AD yang ikut dalam satgas penugasan:
CREW MI-17V5 HA-5140
- PNB I : Kapten Cpn Dicky
- PNB I : Lettu Cpn Mada
- PNB II : Kapten Cpn Timor
- PNB II : Letda Cpn Ghozy
- FE : Lettu Cpn Carlo
- TI : Letda Cpn Rudi
- MEK : Serma Fernando
- MEK : Serma Yosep
- MEK : Sertu Odam
- AVC : Serka Rudianto. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































