HANKAM

TNI AD Akan Tindak Tegas Oknum Prajurit Terlibat Penyelundupan 5.400 Telur Penyu

Oknum prajurit TNI AD.
Oknum prajurit TNI AD diduga terlibat penyelundupan telur penyu. (Foto: Dok. PSDKP Pontianak)

Jakarta, IDM – Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen TNI Wahyu Yudhayana memastikan TNI AD akan menindak tegas oknum prajurit yang diduga terlibat penyelundupan 5.400 telur penyu jaringan internasional.

"Apabila dari hasil penyidikan dan investigasi ditemukan keterlibatan oknum prajurit, maka TNI AD tidak akan mentolerir dan akan memproses secara tegas sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku," kata Wahyu kepada Indonesia Defense Magazine, Jumat (18/7).

Saat ini, kata Wahyu Mabes TNI Angkatan Darat telah memonitor pemberitaan dan informasi yang berkembang terkait kasus tersebut.

Baca Juga: KRI Sultan Iskandar Muda-367 Cetak Prestasi Internasional dalam Evaluasi MTF Unifil

"TNI AD sedang melakukan proses penyidikan dan investigasi secara mendalam. Apabila memang ditemukan bukti keterlibatan oknum anggota TNI AD, maka pasti akan dilanjutkan dengan proses hukum sesuai prosedur yang berlaku," jelas Wahyu.

Lebih lanjut ia mengatakan TNI AD berkomitmen untuk terus menegakkan hukum secara objektif dan transparan serta disiplin kepada prajuritnya sebagai bagian dari upaya menjaga kehormatan institusi dan kepercayaan masyarakat.

"Perlu kami tegaskan bahwa Bapak Kepala Staf Angkatan Darat selama ini telah secara konsisten dan berulang kali menekankan kepada seluruh prajurit agar senantiasa menghindari segala bentuk pelanggaran, terlebih yang berkaitan dengan tindakan ilegal yang merugikan masyarakat serta negara," kata Wahyu.

Diringkus PSDKP

Sebelumnya, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Pung Nugroho Saksono dalam keterangan resminya, Jumat (18/7) mengatakan pihaknya berhasil meringkus dua pelaku penyelundupan dan perdagangan telur penyu sebanyak 5.400 butir. Salah satu pelaku diduga adalah oknum prajurit TNI AD.

Menurut Pung, telur yang diselundupkan dikirim dari Kepulauan Riau menggunakan kapal dan tiba di Pelabuhan Sintete, Kabupaten Sambas.

Baca Juga: 1.152 Calon Tamtama di Kodam XIII/Merdeka Lulus Menjadi Prajurit TNI AD

"Kedua pelaku sudah melakukan aksinya dua kali dalam waktu dekat ini. Telur penyu tersebut juga dijual kepada seseorang di Serikin, Malaysia untuk dijajakan kembali. Pelaku ngaku jual telur penyu di Serikin seharga Rp10 hingga Rp12 ribu per butir. Polisi di Malaysia juga menangkap penjual telur penyu yang ternyata dia ini beli dari kedua pelaku di Kalbar ini. Ini sudah jelas rangkaiannya,” ungkap Pung.

Kedua pelaku mengirim telur penyu tersebut ke Malaysia melalui jalur tikus.

“Telur penyu ini dilindungi, mereka akan merusak ekosistemnya. Maka kami akan menindak tegas kepada para pelaku perdagangan telur penyu ini,” tegasnya. (rr)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.