TNI AD Akan Perbaiki 15 Pos Prajurit di Papua

Jakarta, IDM - Usai menggelar Rapat Pimpinan TNI AD, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengungkapkan rencana memperbaiki pos-pos prajurit yang bertugas di Papua.
Maruli berharap, dalam tahun ini minimal 10 sampai 15 pos bisa diperbaiki dan dapat melakukan percepatan proses perbaikan di pos-pos berikutnya.
Baca Juga: Peringatkan Potensi Perang, Wamenhan: Prajurit TNI Harus Siap Siaga
“Kita sih berharap semua ya, jadi bagaimana caranya memang kesulitan kesulitan kita adalah mendrop barang barang di area tersebut. Karena area tersebut, ada beberapa pos yang hanya bisa didatangi oleh heli,” jelas Maruli
“Sedangkan selama ini droping logistik aja sulit apalagi bawa barang lain,” lanjutnya.
Baca Juga: KSAD: Pembentukan Kodam di IKN Masih Terus Dikaji
Meski banyak pos yang sulit dijangkau helikopter untuk mengantar logistik, namun Maruli mengatakan saat ini sejumlah helikopter milik TNI AD sudah diperbaiki sehingga dapat menjangkau pos-pos tersebut.
“Saya juga cukup takjub kemarin ada perbaikan waktu saya baru naik kasad diserahkan 10 pesawat Fennec sudah siap terbang 10 unit. Ini ke depan juga akan rencananya diperbaiki lagi 5 Fennec dengan Bell,” ucapnya. (nhn)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































