Tiga Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon Dapat KPLB, Keluarga Dapat Santunan Rp 1,8 M

Jakarta, IDM – Tiga prajurit TNI yang gugur saat bertugas menjadi pasukan perdamaian di Lebanon atau United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) mendapat kenaikan pangkat luar biasa (KPLB).
Ketiga prajurit itu antara lain Kapten (Inf) Zulmi Aditya, Sertu M Nur Ichwan, dan Praka Farizal Rhomadhon. Mereka tergabung dalam Satuan Tugas Batalion Mekanis (Satgas Yonmek) TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-S UNIFIL.
“Ketiga prajurit gugur mendapatkan kenaikan pangkat luar biasa operasi militer selain perang anumerta (KPLB OMSPA),” kata Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dalam keterangannya, Rabu (1/4).
Baca Juga: Usai Alami Kebakaran, Yonarmed 12 Bangun Rumah untuk Lansia di Perbatasan
Selain itu, ketiga prajurit juga mendapatkan medali Dag Hammarskjöld, penghargaan anumerta tertinggi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Kemudian, gaji terusan selama 12 bulan (gaji pokok+ ULP+ tunjangan jabatan), serta pensiun janda setelah gaji terusan selesai dibayarkan.
Keluarga ketiga prajurit itu juga mendapatkan santunan sebesar Rp 1,8 miliar per keluarga. Rinciannya, nilai tunai tabungan asuransi, santunan risiko kematian khusus, beasiswa untuk dua anak, santunan kematian dari PBB, dana watzah, tabungan wajib perumahan (TWP) TNI AD, personal accident, dan santunan gugur dari perbankan.
Kronologi gugur
Diketahui, Praka Farizal Rhomadhon gugur setelah menjadi korban ledakan artileri yang menyasar markas pasukan perdamaian di Lebanon Selatan, pada Minggu (29/3) petang waktu setempat.
Menurut Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) yang disiarkan Anadolu Ajansi, penembakan artileri itu dari Israel, dengan menargetkan markas kontingen Indonesia yang bertugas sebagai pasukan perdamaian PBB di Adshit al-Qusayr. Namun, UNIFIL masih mendalami asal muasal artileri tersebut.
Sementara itu, Kapten (Inf) Zulmi Aditya dan Sertu M Nur Ichwan gugur setelah kendaraan yang mereka tumpangi meledak di sekitar Bani Hayyan, Sektor Timur, Lebanon Selatan, Senin (30/3) waktu setempat.
Baca Juga: 2 Kapal Perang Malaysia Sandar di Surabaya, Jalankan Misi Regional
Berdasarkan laporan dari daerah penugasan, insiden tersebut terjadi pada saat Tim Escort atau pembuka ambulans dari Kompi B Satgas Yonmek XXIII-S/UNIFIL yang tergabung dalam Sector East Mobile Reserve (SEMR) melaksanakan pengawalan konvoi combat support service unit (CSSU).
“(Pengawalan) dalam rangka tugas memberikan dukungan dari Markas Komando Sektor Timur UNIFIL United Nations Post (UNP) 7-2 menuju Mako Satgas Batalion Mekanis (Yonmek) TNI Konga XXIII-S/UNIFIL di UNP 7-1,” kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah dalam keterangan pers, Selasa (31/3). (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































