Tempuh 3.245 Mil Laut, KRI Canopus-936 Dijadwalkan Tiba di Indonesia 6 Mei

Jakarta, IDM – Kapal survei mutakhir TNI AL, KRI Canopus-936, memulai pelayaran etape terakhir menuju tanah air. Kapal canggih tersebut bertolak dari Port Louis, Mauritius, untuk menempuh perjalanan panjang melintasi Samudra Hindia sebelum dijadwalkan bersandar di Lampung.
Pelayaran etape kelima ini menandai fase penutup dari rangkaian misi diplomasi maritim internasional serta pengiriman alutsista baru tersebut. KRI Canopus-936 yang dikomandani Kolonel Laut (P) Indragiri Yani W. menempuh jarak sekitar 3.245 mil laut dengan estimasi waktu tempuh sembilan hari.
Sebelum tiba di Mauritius, kapal hasil kolaborasi galangan Abeking & Rasmussen Jerman dengan PT Palindo Marine Batam ini telah menaklukkan rute ribuan mil sejak bertolak dari Jerman pada Maret lalu. KRI Canopus-936 bahkan sukses melintasi keganasan Samudra Atlantik Selatan sebelum akhirnya memasuki perairan Samudra Hindia.
Baca Juga: Dilmilti Jakarta akan Gelar Sidang Perdana Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Besok
"Kami telah memastikan seluruh kesiapan teknis kapal selama sandar di Mauritius. Saat ini, fokus utama adalah menempuh etape terakhir menuju Lampung dengan tetap mengutamakan prosedur keselamatan serta kewaspadaan terhadap kondisi cuaca di Samudra Hindia," terang Indragiri, dikutip dari keterangan Dispen Pushidrosal, Selasa (28/4).
Selama bersandar tiga hari di Mauritius, awak kapal melaksanakan agenda diplomasi maritim dan kunjungan kehormatan kepada otoritas keamanan laut setempat. Langkah ini dilakukan usai kapal menyelesaikan pelayaran delapan hari dari Cape Town, Afrika Selatan, dengan kondisi mesin dan personel yang prima.
Laboratorium Terapung dengan Teknologi Robotik
KRI Canopus-936 bukan sekadar kapal bantu hidro-oseanografi biasa. Armada ini merupakan laboratorium terapung yang mengusung perangkat riset bawah laut paling modern. Kapal ini membawa wahana bawah air otonom atau Autonomous Underwater Vehicle (AUV) yang mampu memetakan dasar laut secara otomatis tanpa awak.
Baca Juga: Dramatis! Kopaska Rebut Kembali Pesawat yang Dibajak di Sidoarjo
Selain itu, kekuatan sensor kapal ini didukung oleh robot bawah laut kendali jarak jauh atau Remotely Operated Vehicle (ROV) untuk inspeksi kedalaman, serta pesawat nirawak atau Unmanned Aerial Vehicle (UAV) untuk pemantauan dari udara. Seluruh sistem robotik tersebut berfungsi sempurna sepanjang pelayaran lintas benua ini.
Jika kondisi cuaca mendukung, kapal survei kebanggaan Indonesia yang diawaki 93 prajurit pilihan ini diperkirakan mulai memasuki wilayah perairan teritorial Indonesia pada 6 Mei mendatang. Kehadiran KRI Canopus-936 nantinya memperkuat tugas Pusat Hidro-oseanografi Angkatan Laut (Pushidrosal) dalam memetakan kekayaan bawah laut nusantara dengan akurasi data yang sangat presisi. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































