HANKAM

Targetkan Internet-Energi Musuh Drop 90%, TNI AL Siap Perang Sabotase Dasar Laut

Teknologi kendaraan UUV
Teknologi kendaraan bawah air nirawak (UUV) menjadi instrumen krusial dalam paradigma baru peperangan dasar laut (sea-bed warfare) untuk melindungi maupun melumpuhkan infrastruktur vital nasional. (Foto: Dok. CIMSEC)

Jakarta, IDM – TNI AL kini membidik infrastruktur dasar laut (sea-bed) sebagai sasaran strategis dalam peperangan masa depan. Bukan lagi sekadar adu tembak antarkapal perang di permukaan, fokus pertahanan kini mengarah pada "nadi" komunikasi dan energi yang berada di kedalaman samudra.

Asisten Operasi Kepala Staf Angkatan Laut (Asops KSAL) Laksamana Muda Yayan Sofiyan menjelaskan bahwa dasar laut telah menjadi Center of Gravity atau titik pusat kekuatan yang menentukan hidup-matinya stabilitas sebuah negara. Ia menekankan pentingnya TNI AL menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi ancaman sabotase infrastruktur vital tersebut.

"Coba bayangkan kalau fiber optic, terus kemudian sea-bed yang ada di laut untuk penetrasi. (Skenarionya) membungkam suatu negara yang ingin bermusuhan dengan Indonesia, dengan meledakkan infrastruktur komunikasi ekonominya hingga jaringan internetnya terputus," ujar Yayan dalam diskusi Semar Sentinel, Jakarta, Rabu (25/2).

Baca Juga: Dinamika Lingstra Semakin Kompleks, TNI Samakan Persepsi Antarunsur Operasi

Lumpuhkan Ekonomi dan Energi

Yayan memberikan gambaran betapa fatalnya dampak jika sebuah negara gagal memitigasi serangan terhadap infrastruktur bawah laut. Menurutnya, gangguan pada kabel komunikasi dapat membuat akses internet suatu wilayah lumpuh total hingga lebih dari 80 persen.

Tak hanya sektor komunikasi, jalur pasokan energi di dasar laut juga menjadi area yang sangat rawan. Langkah sabotase terhadap jaringan energi bisa menurunkan pasokan (intake) energi suatu negara hingga melebihi 90 persen.

"Inilah Center of Gravity yang harus kita pikirkan dalam penyelenggaraan pertempuran ke depan. Bagaimana tindakan cepat yang dilakukan militer untuk membungkam negara tersebut supaya merubah cara berpikirnya," tegas Yayan.

Bungkam Musuh Tanpa Pasukan Besar

TNI AL memproyeksikan strategi pertahanan ini untuk melumpuhkan mental lawan. Melalui penguasaan teknologi Multi-Domain Operation atau integrasi tempur di darat, laut, udara, siber, hingga ruang angkasa. Indonesia menyiapkan kemampuan untuk merespons ancaman secara presisi pada infrastruktur vital sebelum lawan bertindak lebih jauh.

Yayan menyebut penggabungan lima domain tersebut bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan eksistensi. Hal ini bertujuan agar Indonesia memiliki daya tawar tinggi dalam menghentikan niat perang pihak asing melalui penetrasi strategis yang efektif dan efisien.

Baca Juga: Terima Kunjungan Dubes RI untuk Pakistan, Panglima TNI Bahas Pelatihan Lanjutan Kopassus

Waspada Ancaman Hibrida di Dasar Laut

Langkah antisipasi TNI AL ini sejalan dengan meningkatnya kewaspadaan global terhadap perang hibrida (hybrid warfare). Sebelumnya, TNI AL bersama Kementerian Pertahanan Belanda telah membedah kerentanan kabel internet dan pipa migas bawah laut yang kini menjadi target "empuk" dalam konflik zona abu-abu (gray-zone).

Kapusjianmar Seskoal Laksamana Pertama Salim menilai gangguan pada sea-bed berpotensi menimbulkan dampak lintas batas yang signifikan terhadap ekonomi digital hingga stabilitas kawasan. Masalah ini sulit dideteksi karena karakteristik infrastruktur bawah laut yang tersembunyi.

Tak hanya itu, perwakilan TNI AL juga menyuarakan urgensi perlindungan Critical Underwater Infrastructure (CUI) dalam forum Navy Tech 2026 di Swedia. Pengamanan 'nadi bawah laut' ini menjadi tantangan besar, terutama di wilayah selat strategis seperti Selat Malaka, Selat Sunda, dan Selat Lombok. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.