HANKAM

Skadik 103, Kawah Candradimuka Calon Penerbang PTTA TNI AU

Galih Kusumayuda
Komandan Skadik 103 Letkol Pnb (N) Galih Kusumayuda saat menjelaskan fase pendidikan di Skadik 103, salah satunya fase simulator. (IDM/Faisal Ramadhan)

Taksimalaya, IDM – Perkembangan teknologi telah mengubah karakter peperangan modern, termasuk dalam pelaksanaan operasi udara yang kini memanfaatkan drone atau pesawat terbang tanpa awak (PTTA).

Menghadapi perubahan tersebut, TNI Angkatan Udara (TNI AU) beradaptasi salah satunya dengan menyiapkan sumber daya manusia (SDM), termasuk penerbang PTTA. Adaptasi itu diimplementasikan melalui pendidikan intensif di Skadron Pendidikan (Skadik) 103, Lanud Wiriadinata, Tasikmalaya.

Komandan Skadik 103 Letkol Pnb (N) Galih Kusumayuda menjelaskan, satuan pendidikan bagi calon penerbang PTTA tersebut dibentuk pada Agustus 2023. Dalam struktur organisasi TNI AU, Skadik 103 berada di bawah Wing Pendidikan (Wingdik) 100/Terbang.

Baca Juga: Pesawat N219 Buatan PTDI akan Terbang Perdana pada Desember, Dipesan Enam Unit untuk TNI AD

“Tujuannya adalah untuk melaksanakan pendidikan bagi penerbang pesawat terbang tanpa awak TNI Angkatan Udara serta bagi sekolah instruktur penerbang (SIP) pesawat terbang tanpa awak,” jelas Galih kepada awak media dalam acara Outbound Media Dirgantara 2026, Rabu (21/10).

Sebelum memasuki pendidikan khusus PTTA, para calon penerbang terlebih dahulu menjalani pendidikan selama tiga bulan di Lanud Adisutjipto, Yogyakarta. Pada tahap ini, para siswa mempelajari dasar-dasar penerbangan melalui pembelajaran di kelas, latihan simulator, hingga praktik terbang menggunakan pesawat Grob. Setelah menuntaskan ketiga tahapan tersebut mereka kemudian melanjutkan pendidikan khusus PTTA di Skadik 103.

Galih Kusumayuda
Persiapan simulasi terbang Skywalker yang dilakukan di Skadik 103. (IDM/Faisal Ramadhan)

Di Skadik 103, proses pendidikan kembali dibagi menjadi tiga tahap, yakni pembelajaran teori mengenai PTTA, latihan menggunakan simulator, dan praktik menerbangkan pesawat terbang tanpa awak. Tahapan tersebut dirancang untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan sebelum menjalankan tugas sebagai penerbang PTTA.

Baca Juga: Ada Proyek Pemusatan MRO Pesawat Hercules, PTDI Ikut Pindah ke Kertajati

“Yang pertama kita menggunakan remote control pesawat atau ARCI model sebagai latih dasar. Kemudian selanjutnya siswa akan lanjut menggunakan UAV Class 1 Skywalker dan bila lulus akan melanjutkan tahapan latih lanjut menggunakan UAV Class 2,” jelas Galih.

Secara keseluruhan, pendidikan calon penerbang PTTA di Skadik 103 berlangsung selama kurang lebih enam bulan. Setelah lulus, para penerbang akan ditempatkan di skadron operasional UAV TNI AU, antara lain Skadron Udara 51, Skadron Udara 52, dan satuan yang baru diresmikan pada 5 Oktober 2026 yakni Skadron Udara 54.

Galih Kusumayuda
Komandan Skadik 103 Letkol Pnb (N) Galih Kusumayuda memberi keterangan kepada awak media saat acara Outbound Media Dirgantara 2026. (IDM/Faisal Ramadhan)

Namun, pendidikan di Skadik 103 tidak hanya berfokus pada kemampuan mengendalikan pesawat nirawak. Galih menjelaskan, para siswa juga dibekali pengetahuan mengenai pemanfaatan drone untuk menjalankan misi operasional.

Baca Juga: Pulang Latihan Malam, Jet Tempur Mirage 2000D Jatuh di Hutan Prancis

“Kami di sini tidak hanya mengajarkan siswa how to fly the drone, but also how to use the drone. Jadi, kami melaksanakan pendidikan mission training. Di sini kita sudah membekali siswa bagaimana melaksanakan misi-misi yang akan nanti dilaksanakan di operasional,” imbuh Danskadik 103.

Seiring dengan perkembangan teknologi PTTA dan dinamika peperangan modern, Skadik 103 juga terus menyesuaikan materi pembelajarannya. Salah satu langkah yang dilakukan ialah memperbarui kurikulum agar tetap relevan dengan kebutuhan operasi dan perkembangan kemampuan pesawat terbang tanpa awak.

“Untuk kurikulum, kita terus berkembang. Di awal diaktifkan kembali, kita menggunakan kurikulum di 2023. Lalu kami sesuaikan dengan tantangan global, khususnya dalam keahlian UAV Class 1 atau UAV taktis. Kami sudah melaksanakan pembaharuan kurikulum di 2024 dan di situ sudah kita gelar tiga tahapan,” tutur Galih.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.