Sebanyak 10 Penerbang Angkatan Darat Dapat Penghargaan dari Filipina

Jakarta, IDM – Sebanyak 10 personel Penerbang Angkatan Darat (Penerbad) dari Skadron 31/Amur Yudha Cakti (AYC) menerima penghargaan "Civic Action dan Commendation Award of Chief Philippines Air Force" pada tanggal 6 November 2024 di Filipina.
Dilansir keterangan dari penerangan Skadron 31/ AYC, Kamis (7/11) penghargaan diberikan atas dedikasi para personel yang selama 10 hari bertugas membantu menyalurkan dukungan logistik kepada warga Filipina lewat udara dengan rute Bandara Villamor, Manila ke Bandara Naga City untuk penanggulangan bencana alam badai “Kristine dan Leon” yang menimpa Filipina.

Baca Juga: Indonesia, AS dan Australia Gelar Latihan Simulator Helikopter AH-64E Apache
Satuan Tugas ini dipimpin oleh Komandan Wing Udara 4 Kolonel Pnb Asep Wahyu dan Crew Heli Mi-17V5, nomor registrasi HA-5140 yang dipimpin oleh Kapten Cpn Dicky Yudha Satria. Bantuan yang sudah disalurkan selama 10 hari mencapai 6.700 kilogram yang terdiri dari Air minum dan Makanan kaleng.
"Selesai sudah tugas bhakti demi ibu pertiwi. Jaya selalu Penerbad. Indonesia for Philipines! WIRA AMUR!!" tulis keterangan Penerangan Skadron 31/ AYC. (rr)
Hankam

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut
Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































