HANKAM

Satuan Tugas Macan Tutul: Si Baret Hijau Penjaga Rimba Sanggabuana

Menlatpur Kostrad
Personel Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad saat melakukan patroli hutan di kawasan hutan Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat. (IDM/Faisal Ramadhan)
Populasi Macan Tutul Jawa di ambang kritis dan terancam punah. Namun, kini keberadaannya dijaga dan dilindungi melalui kolaborasi apik antara Komando Strategis Angkatan Darat dengan Sanggabuana Conservation Foundation. Upaya ini merupakan bentuk nyata komitmen TNI AD terhadap kelestarian alam dan ekosistem, sejalan dengan program unggulan TNI AD “Bersatu Dengan Alam”. Sebagai bagian dari bangsa Indonesia, setiap prajurit memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga keanekaragaman hayati demi kelangsungan hidup generasi mendatang.

Jakarta, IDM – Berjarak kurang lebih 50 kilo Gunung Sanggabuana terletak di perbatasan Kabupaten Karawang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Gunung ini memiliki ketinggian 1.291 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun secara angka tidak setinggi gunung-gunung besar lain di Jawa Barat seperti Gunung Gede atau Ciremai, Sanggabuana dikenal memiliki medan yang sangat menantang. Dengan karakteristik puluhan puncak yang membentang sepanjang 27 kilometer, gunung ini dikepung oleh jalur tanjakan yang curam dan vegetasi rapat khas hutan tropis. Karakteristik ekstrem inilah yang menjadi faktor utama mengapa wilayah ini dipilih sebagai daerah latihan komando taktis Resimen Pusat Latihan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad, sekaligus menjadi benteng pertahanan alami bagi Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas).

Ditemui redaksi Indonesia Defense Magazine, Komandan Satuan Penataran Menlatpur Kostrad, Letkol Inf Wisnu Broto, mengungkapkan bahwa di area latihan seluas 501 hektar inilah sejarah baru konservasi militer diukir. Langkah tidak biasa ini bermula pada tahun 2023, saat Komando Strategis Angkatan Darat (Kostrad) di bawah pimpinan Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad), menggandeng Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) untuk memulai program penghijauan masif dan pelepasliaran satwa dilindungi. Sinergi tersebut terus diperkuat hingga tahun 2025 lalu, Jenderal Maruli secara resmi melepas Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa.

Kini, setelah Jenderal Maruli menahkodai posisi sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), kolaborasi di Sanggabuana melesat menjadi operasi terpadu yang jauh lebih intensif melalui jargon “TNI AD: Bersatu dengan Alam”. Letkol Inf Wisnu memastikan bahwa program ini berhasil mengubah persepsi publik yang selama ini menganggap latihan militer dapat merusak alam. Di Sanggabuana, Kostrad justru memanfaatkan momen latihan pratugas batalion, teknologi drone pengintai, hingga navigasi satelit presisi tinggi untuk memetakan jalur jelajah sang predator puncak.

Baca Juga: Langkah Positif untuk Ekosistem dan Kemandirian

“Fokus utamanya kini mutlak, yaitu melakukan spionase ilmiah demi melacak, mendata, dan melindungi populasi Macan Tutul Jawa, sang predator puncak yang statusnya berada diambang kritis dan terancam punah,” tegas Letkol Inf Wisnu saat ditemui di Karawang.

Penggabungan Teknologi Sipil dan Militer

Founder Sanggabuana Conservation Foundation, Bernard, menyebut kehadiran prajurit Kostrad menjadi kekuatan besar yang mengakselerasi misi konservasi mereka. Menurutnya, perkawinan antara disiplin militer dan dedikasi sains sipil terbukti berhasil meruntuhkan sekat ego sektoral demi satu misi besar, menyelamatkan benteng terakhir Macan Tutul Jawa di Karawang.

Letkol Inf Wisnu Broto
Komandan Satuan Penataran Menlatpur Kostrad, Letkol Inf Wisnu Broto. (IDM/Faisal Ramadhan)

“Kolaborasi ini melahirkan simbiosis unik di mana kedua belah pihak saling mengisi keterbatasan masing-masing,” ujar Bernard yang ditemui di lokasi yang sama.

Menlatpur Kostrad
Koordinator Sanggabuana Wildlife Ranger Bernard berbincang dengan Personel Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad sebelum melakukan patroli hutan di kawasan hutan Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat. (IDM/Faisal Ramadhan)

Ia mencontohkan, dalam operasionalnya, anggota SCF membagikan ilmu keanekaragaman hayati kepada prajurit Kostrad, mulai dari cara membaca jejak fisik makro di lantai hutan, mengidentifikasi jenis satwa, hingga menganalisis pola tutul satwa. Sebaliknya, personel Kostrad melatih tim lapangan sipil SCF mengenai ilmu survival (bertahan hidup) di dalam hutan, teknik navigasi medan ekstrem, dan penggemblengan ketahanan fisik.

Menlatpur Kostrad
Koordinator Sanggabuana Wildlife Ranger Bernard bersama Personel Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad berdiskusi titik koordinat sebelum melakukan patroli hutan di kawasan hutan Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat. (IDM/Faisal Ramadhan)

Lebih lanjut, Bernard menjelaskan bahwa SCF membawa metodologi analisis data ilmiah terstruktur yang berkolaborasi dengan akademisi serta mahasiswa tingkat akhir dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Di sisi lain, Kostrad mendukung metodologi tersebut secara taktis dengan mengerahkan drone militer beserta operator tentaranya saat latihan pratugas batalion. Jaringan drone ini berfungsi untuk memantau pergerakan macan tutul secara real-time, terutama ketika sistem mendeteksi adanya satwa yang bergerak mendekati pemukiman warga.

Baca Juga: 25 Titik Bunker Pertahanan Pasir Angin

Sinergi ini juga menyentuh aspek sosial di luar kawasan hutan.  “Personel Kostrad membantu SCF turun bersama ke kampung-kampung dan sekolah-sekolah lokal untuk melakukan penyuluhan pro-konservasi. Kehadiran figur TNI terbukti sangat efektif mengubah mindset warga lokal, dari yang awalnya berprofesi sebagai pemburu kini berbalik menjadi pelindung hutan,” tambahnya.

Dukungan penuh Kostrad juga diwujudkan dengan menerjunkan langsung prajuritnya untuk memperkuat tim lapangan dalam melakukan patroli hutan gabungan. Pasukan terpadu ini bergerak menyisir jerat-jerat satwa dan menghalau para pemburu liar yang mencoba mereduksi populasi satwa di Sanggabuana.

“Para prajurit Baret Hijau ini terlibat langsung dalam penjelajahan hutan terjal selama berbulan-bulan untuk memasang, merawat, hingga melakukan sistem bongkar-pasang terhadap 40 unit camera trap di lapangan,” pungkas Bernard.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.