Bagi Sersan Satu (Sertu) Gabriel, menjaga rimba Gunung Sanggabuana, Karawang, adalah babak baru yang penuh tantangan. Bersama dua rekannya, Pratu Taufik Rahman dan Pratu Khairul Umam Gapi, prajurit Menlatpur Kostrad ini tidak hanya harus menaklukkan terjalnya kontur gunung. Mereka juga berada di garis depan melawan kerasnya aksi perburuan liar, sekaligus siap menghadapi risiko serangan Macan Tutul Jawa yang bisa datang kapan saja.
Akumulasi tiga bulan hidup di dalam hutan dengan sistem bongkar pasang kamera trap membawa tim gabungan peneliti Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) dan TNI AD berhasil menorehkan tinta emas dalam upaya konservasi macan tutul di Jawa Barat.
Berjarak kurang lebih 50 kilo Gunung Sanggabuana terletak di perbatasan Kabupaten Karawang, Kabupaten Bogor, dan Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyimpan kekayaan biodiversitas yang luar biasa. Gunung ini memiliki ketinggian 1.291 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun secara angka tidak setinggi gunung-gunung besar lain di Jawa Barat seperti Gunung Gede atau Ciremai, Sanggabuana dikenal memiliki medan yang sangat menantang. Dengan karakteristik puluhan puncak yang membentang sepanjang 27 kilometer, gunung ini dikepung oleh jalur tanjakan yang curam dan vegetasi rapat khas hutan tropis. Karakteristik ekstrem inilah yang menjadi faktor utama mengapa wilayah ini dipilih sebagai daerah latihan komando taktis Resimen Pusat Latihan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad, sekaligus menjadi benteng pertahanan alami bagi Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas).
Tim Ekspedisi Macan Tutul Jawa dari TNI AD berhasil mengungkap keberadaan 19 individu Macan Tutul Jawa (Panthera Pardus Melas) dan Macan Kumbang, termasuk dua anakan macan di kawasan Pegunungan Sanggabuana.
Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak bersama Panglima Kostrad Letjen TNI Mohammad Fadjar melakukan pelepasan tim ekspedisi macan tutul Jawa di Kawasan Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad Sanggabuana, Karawang pada Selasa (18/2).