Hampir Tiga Tahun, Sertu Gabriel Jaga Rimba Sanggabuana

Jakarta, IDM – Bagi Sersan Satu (Sertu) Gabriel, menjaga rimba Gunung Sanggabuana, Karawang, adalah babak baru yang penuh tantangan. Bersama dua rekannya, Pratu Taufik Rahman dan Pratu Khairul Umam Gapi, prajurit Menlatpur Kostrad ini tidak hanya harus menaklukkan terjalnya kontur gunung. Mereka juga berada di garis depan melawan kerasnya aksi perburuan liar, sekaligus siap menghadapi risiko serangan Macan Tutul Jawa yang bisa datang kapan saja.
“Kalau ditanya kultur gunung ini ekstrem. Bisa juga dibilang ngeri, saat patroli. Tapi kita sudah ditugaskan, mau tidak mau harus menjalankan. Kita harus terus bergerak. Kadang bersama warga sekitar, menemani melakukan patroli. Sejauh ini, berjalan lancar. Sangat baik melaksanakan kegiatan ini bersama tim, ada kerja sama,” ujar Gabriel, yang hampir tiga tahun mendedikasikan dirinya dalam satgas perlindungan satwa langka ini.
Baca Juga: Kolaborasi Taktis: Identifikasi 20 Individu Macan Tutul Sanggabuana Dan Temukan Teori Baru
Menariknya, operasi konservasi ini memberikan warna baru bagi prajurit asal Papua tersebut. Di tengah rimbunnya hutan Sanggabuana, Gabriel justru mendapatkan banyak pengetahuan teknis nonmiliter yang belum pernah ia duga sebelumnya, mulai dari teknik memasang kamera pengintai hingga manajemen pemetaan satwa melalui pembacaan koordinat.
“Banyak ilmu yang kita dapat. Beberapa ilmu seperti pemasangan kamera, bagaimana cara melihat koordinatnya. Tidak jauh berbeda sama materi kami di lapangan. Jadi kami juga sangat bersyukur bisa bergabung,” ungkapnya bangga.
Lebih dari sekadar berpatroli, penugasan khusus ini menjadi panggung bagi Gabriel dan tim untuk menerapkan ilmu teritorial TNI secara humanis. Di sela-sela langkah kaki mereka menyisir hutan, edukasi berkala terus diselipkan kepada masyarakat lokal. Mulai dari larangan membabat hutan hingga cara memitigasi konflik dengan karnivora besar agar tidak ada lagi satwa yang terluka akibat perburuan.
Baca Juga: Satuan Tugas Macan Tutul: Si Baret Hijau Penjaga Rimba Sanggabuana
“Jadi warga sekitar sini sudah tahu kalau macan tutul itu dilindungi. Kalau seandainya, macan tutul turun di pemukiman warga, segera dilaporkan ke pihak kami. Jadi kami bisa mengatasi hal tersebut,” pungkas Gabriel.
Melalui sinergi erat bersama Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), komitmen perlindungan ini juga menyentuh akar masalah ekonomi warga. Dengan dibukanya program ketahanan pangan dan peternakan domba, masyarakat kini memiliki alternatif penghasilan baru, sehingga pelan tapi pasti, aktivitas pembukaan lahan ilegal di kawasan suaka Gunung Sanggabuana dapat dihentikan sepenuhnya.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































