HANKAM

Kolaborasi Taktis: Identifikasi 20 Individu Macan Tutul Sanggabuana Dan Temukan Teori Baru

Menlatpur Kostrad
Personel Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad bersama tim Sanggabuana Wildlife Ranger memasang kamera trap di kawasan hutan Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat. (IDM/Faisal Ramadhan)

Jakarta, IDM – Akumulasi tiga bulan hidup di dalam hutan dengan sistem bongkar pasang kamera trap membawa tim gabungan peneliti Sanggabuana Conservation Foundation (SCF) dan TNI AD berhasil menorehkan tinta emas dalam upaya konservasi macan tutul di Jawa Barat.

Founder SCF, Bernard, mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis populasi dari 300 aktivitas yang terekam, tim berhasil mengidentifikasi 20 individu berbeda berdasarkan pola tutulnya. Untuk sementara, individu-individu ini diberi kode spesies SP01 hingga SP20.

Hasil pemantauan ini melahirkan fakta mengejutkan yang berpotensi membantah teori-teori dalam jurnal ilmiah terdahulu mengenai perilaku macan tutul. Teori lama umumnya mengkategorikan macan tutul sebagai hewan nokturnal yang aktif di malam hari. Namun, fakta di Sanggabuana membantah hal tersebut karena 73 persen aktivitas macan tutul justru terjadi di siang hari, sedangkan aktivitas malam hari hanya menyumbang 27 persen. Data visual menunjukkan bahwa pada malam hari mereka justru cenderung meregangkan badan dan tidur, meski terbangun secara berkala setiap 15 menit.

Baca Juga: Satuan Tugas Macan Tutul: Si Baret Hijau Penjaga Rimba Sanggabuana

“Data ini sangat valid karena didukung bukti visual, koordinat, dan timestamp yang lengkap,” kata Bernard.

Temuan baru lainnya berkaitan dengan perilaku teritorial dan genetik melanistik. Meskipun dikenal sebagai hewan soliter yang ketat menjaga teritorinya, terdapat satu titik kamera yang berhasil merekam sembilan individu berbeda. Titik ini ternyata merupakan jalur pegunungan utama yang menghubungkan bukit-bukit, sehingga memaksa individu yang berbeda melewati rute yang sama. Di jalur ini, mereka saling menumpuk tanda teritorial dengan cara mengais tanah, mencakar, atau menyemprotkan urin dan feses. Selain itu, tim juga mendapatkan bukti visual kuat mengenai macan kumbang (melanistik). Kamera merekam seekor macan kumbang yang membawa dua anak, di mana satu anak bermotif tutul dan satu lagi bermotif kumbang.

Hal ini menjadi bukti konkret bahwa perkawinan genetik antara macan tutul dan macan kumbang dapat menghasilkan keturunan dengan kedua variasi tersebut. Atas dasar temuan-temuan penting ini, Bernard memastikan hasilnya akan diterbitkan dalam jurnal ilmiah, yang sekaligus menjadi momen pertama kalinya Angkatan Darat menerbitkan jurnal ilmiah tentang macan tutul.

Metode Pemasangan Kamera Trap dan Sistem Pelacakan Jalur

Keberhasilan pengumpulan data visual ini tidak lepas dari metode pemasangan kamera trap yang diterapkan secara ketat oleh tim di lapangan. Sebanyak 40 kamera trap dipasang menggunakan metode stasiun ganda, di mana seluruh area riset dibagi menjadi 40 grid. Pada setiap grid, kamera dipasang secara berpasangan di sisi kanan dan kiri jalur perlintasan satwa. Mekanisme perekaman diatur secara spesifik, yakni satu kamera disetel khusus untuk mode video, sedangkan kamera pasangannya disetel untuk mode foto.

Berard menjelaskan bahwa operasional kamera ini dibagi menjadi dua fase waktu. Setelah 3,5 bulan pertama berjalan, data rekaman diambil dan posisi kamera dipindahkan ke lokasi baru, namun tetap berada di dalam grid yang sama untuk durasi tiga bulan berikutnya. Setelah total tujuh bulan pemantauan selesai, seluruh data ditarik se-cara massal untuk dianalisis perbedaan pola tutul pada setiap individu.

Untuk menentukan titik pemasangan ka-mera secara presisi, tim gabungan menggu-nakan kombinasi dua metode indikator pelacakan jalur. Metode pertama adalah survei lapangan konvensional dengan membaca jejak fisik langsung, seperti kotoran, bekas cakaran pada pohon, dan sisa-sisa mangsa. Metode kedua adalah survei elektronik, yaitu memetakan jalur pergerakan alami satwa menggunakan teknologi satelit serta data awal mengenai sebaran satwa yang menjadi mangsa macan tutul.

Baca Juga: Langkah Positif untuk Ekosistem dan Kemandirian

Koordinat presisi dari hasil kombinasi kedua metode tersebut kemudian dimasukkan ke dalam Global Positioning System (GPS) tim lapangan. Hasilnya, tingkat akurasi pemasangan menjadi sangat tinggi dengan toleransi meleset hanya berkisar antara 20 hingga 50 meter dari target utama. Berkat akurasi yang matang ini, seluruh 40 kamera yang tersebar di hutan berhasil merekam aktivitas macan tutul tanpa ada satupun kamera yang luput.

"Keamanan seluruh perangkat kamera di dalam hutan juga dipastikan terjamin berkat pengawalan ketat dari personel TNI AD. Masyarakat sekitar pun telah mendapatkan sosialisasi secara menyeluruh, sehingga mereka memahami dan mendukung penuh keterlibatan para prajurit dalam kegiatan konservasi ini," kata Bernard.

Hasil positif ini disambut hangat oleh Jenderal Maruli, mengingat estimasi awal yang diprediksi mengenai keberadaan 20 individu macan tutul di kawasan tersebut terbukti sangat akurat. Menanggapi keberhasilan ini, ia menginstruksikan agar pengawasan di lapangan terus diperketat dan memerintahkan tim untuk segera langsung melaporkan setiap kasus perburuan liar yang terdeteksi oleh jaringan kamera trap tersebut.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.