Rotasi Pimpinan, Satbravo 90 Kopasgat Miliki Komandan Baru

Jakarta, IDM - Komandan Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat) Marsda TNI Wahyu Hidayat memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Satuan Bravo 90 (Satbravo 90) di Lapangan Hitam Satbravo 90, Senin (10/4).
Jabatan ini diserahterimakan dari pejabat lama yakni Kolonel Pas Dedy Agung kepada Kolonel Pas Asep Dicky Lukman sebagai komandan yang baru.
Baca Juga: Harbour Clearance, Pastikan Kondisi KRI Aman di Area Sandar
Dalam sambutannya, Dankopasgat mengungkapkan keberadaan Satbravo 90 telah memberikan kontribusi yang sangat berarti bagi TNI dalam melaksanakan perannya sebagai komponen pertahanan negara.

“Satuan Bravo 90 Kopasgat telah mampu menampilkan kesiapan dan kesiagaan operasional yang optimal, sehingga dapat mendukung TNI dalam melaksanakan setiap tugas yang diberikan oleh pemerintah, bangsa dan negara,” tambah Dankopasgat dikutip dari keterangan Penerangan Kopasgat dalam Instagram @kopasgat_tniau, Selasa (11/4).
Baca Juga: Kopassus Resmi Luncurkan Tema dan Logo HUT ke-71
Lebih lanjut disampaikan Wahyu, setiap hal yang telah diraih oleh Satuan Bravo 90 merupakan hasil dari kerja keras, disiplin, dedikasi, dan loyalitas para prajuritnya. (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































