RI Sudah Teken Kontrak Rp7,6 T, TNI AL Tunggu Kelanjutan Rudal BrahMos

Jakarta, IDM – Rencana penguatan pertahanan maritim Indonesia lewat akuisisi peluru kendali (rudal) supersonik BrahMos asal India memasuki babak baru. Kendati pemerintah sudah mengamankan kesepakatan tingkat tinggi, TNI AL masih menanti ketetapan teknis dan instruksi lanjutan terkait operasional senjata tersebut.
Kesepakatan ini bergulir setelah Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri India Narendra Modi meresmikan kontrak pembelian BrahMos di Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (7/7). Proyek pembelian ini melibatkan anggaran senilai 450 juta dolar AS atau berkisar Rp7,6 triliun demi memboyong teknologi persenjataan baru tersebut ke tanah air.
Meskipun komitmen negara sudah ketok palu, kelanjutan pengadaan senjata ini masih berada di bawah wewenang Kementerian Pertahanan (Kemhan). Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul menegaskan, TNI AL saat ini dalam posisi menunggu koordinasi lanjutan dari pemerintah pusat.
Baca Juga: Panglima TNI ke Kapolri: Mari Tingkatkan Lagi Sinergi Ini
"Sementara untuk kerja sama (BrahMos) dengan Indonesia, ini masih dalam penanganan yang dilaksanakan oleh Kementerian Pertahanan. Jadi, kita tunggu saja," ujar Tunggul saat di Markas Besar Angkatan Laut (Mabesal), Cilangkap, Jakarta, Senin (13/7).
Sebelum kontrak resmi disepakati Juli ini, Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali sebenarnya sudah melempar sinyal, TNI AL memerlukan sistem rudal ini sebagai benteng utama wilayah pesisir.
"Untuk masalah alutsista terkait dengan rudal BrahMos, memang ini menjadi salah satu opsi," ungkap Ali di dermaga KBT Sunda Kelapa, Jakarta, pada Desember 2025.
Ali memerinci, sistem pertahanan pantai pilihan TNI AL wajib memiliki kemampuan menghalau kekuatan laut lawan, terutama dalam skenario operasi amfibi atau serangan pendaratan pasukan asing. Kehadiran rudal penjelajah ini diproyeksikan mampu menyergap dan menahan manuver kapal perang musuh langsung di tengah laut sebelum mereka sempat mendekati daratan Indonesia.
Keseriusan tersebut bahkan sempat mewujud dalam diskusi teknis pada Agustus tahun lalu antara jajaran perwira TNI AL bersama pihak produsen, BrahMos Aerospace Private Limited. Pertemuan tersebut khusus memaparkan rencana integrasi senjata pada pangkalan-pangkalan laut strategis yang berada di jalur rawan yurisdiksi nasional.
Baca Juga: 82 Personel Raih Baret Pomau, Siap Tegakkan Hukum dan Disiplin di TNI AU
Selain menyiapkan rudal untuk pertahanan darat ke laut, Kemhan di bawah kepemimpinan Sjafrie Sjamsoeddin juga tengah menimbang opsi perluasan teknologi ini ke udara. Pemerintah sedang mengkaji tawaran militer India untuk memodifikasi jet tempur Sukhoi Su-27/30 milik TNI AU agar mampu menggendong versi ringan rudal BrahMos sebagai senjata pelumpuh kapal perang dari langit.
Sebagai informasi, BrahMos merupakan proyek patungan antara organisasi riset India, Defence Research and Development Organisation (DRDO), dengan perusahaan dirgantara Rusia, NPO Mashinostroyeniya.
Untuk versi ekspor yang dibeli Indonesia, rudal jelajah ini mampu melesat konstan hingga kecepatan 3 Mach (tiga kali kecepatan suara) dengan daya jangkau operasional sejauh 290 kilometer. Senjata seberat 3 ton ini mengusung hulu ledak seberat 300 kilogram, menggunakan sistem pemandu radar aktif dengan prinsip fire and forget (tembak dan lupakan), serta mampu terbang sangat rendah di atas permukaan laut (sea-skimming) hingga ketinggian 3 meter demi menghindari deteksi radar musuh.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































