Rahasia ABK 'Gen Z' Cepat Jinakkan Teknologi Canggih KRI Prabu Siliwangi

Jakarta, IDM – Di balik tampang gahar KRI Prabu Siliwangi-321, tersimpan fakta menarik tentang sosok para pengawaknya. Kapal perang jenis Pattugliatore Polivalente d'Altura (PPA) buatan Fincantieri, Italia, ini ternyata didominasi oleh perwira muda dari Generasi Z dan milenial.
Kehadiran unit kombatan terbaru ini sekaligus menjawab tantangan modernisasi alutsista TNI AL yang semakin digital. KRI Prabu Siliwangi-321 tidak lagi mengandalkan sistem manual, melainkan mengadopsi teknologi revolusioner bernama Naval Cockpit, sebuah sistem kendali terintegrasi yang mirip dengan kokpit pesawat terbang modern.
Kemudi Kapal Rasa Pesawat
Komandan KRI Prabu Siliwangi-321, Kolonel Laut (P) Kurniawan Koes Atmaja, mengungkapkan keunikan kapal canggih ini. Berbeda dengan kapal perang konvensional yang kemudinya besar dan terpisah, di KRI Prabu Siliwangi-321 semua kendali terpusat pada satu meja operasi berteknologi tinggi.
Baca Juga: Pertama dalam 30 Tahun! KRI Prabu Siliwangi Taklukkan Samudra Atlantik-Hindia di Afrika Selatan
"Kapal ini menggunakan sistem kendali terintegrasi Naval Cockpit. Jembatannya sudah sangat canggih, mirip dengan kokpit pesawat. Hanya dua orang di depan bisa mengendalikan seluruh navigasi dan operasi kapal," jelas Kurniawan, di Jakarta, Kamis (26/3).
Teknologi ini menuntut kemampuan anak buah kapal (ABK) yang adaptif dan melek digital. Berbagai sensor, radar, hingga sistem persenjataan terkelola secara otomatis melalui layar sentuh yang interaktif. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa perwira muda menjadi tulang punggung pengawak unit ini.
Kembalinya Era 'Kaliber Besar'
Bukan hanya soal navigasi, ABK muda KRI Prabu Siliwangi-321 juga membuktikan ketangguhannya saat menjajal "otot" kapal di perairan La Spezia, Italia. Mereka sukses melaksanakan structural firing atau uji tembak perdana meriam utama kaliber 127 mm dan meriam sekunder Sovraponte 76 mm.
Baca Juga: Airbus A400M Unit Kedua Pesanan Indonesia Tiba di Lanud Halim Perdanakusuma
Momen ini menjadi sejarah karena TNI AL resmi kembali ke era Large Caliber Gun (kaliber di atas 120 mm) yang sempat absen lama. Uji coba ini memastikan struktur kapal tetap stabil dan mampu meredam hentakan dahsyat meriam raksasa yang memiliki jangkauan masif tersebut.
Diklat Maraton 3 Bulan di Italia
Tantangan menjinakkan teknologi serumit ini dijawab dengan pelatihan intensif yang terukur. Sesuai kontrak Kementerian Pertahanan (Kemhan), para perwira muda menjalani pendidikan latihan maraton di Italia selama total tiga bulan.
Baca Juga: Cerita Prajurit KRI Prabu Siliwangi Tentukan Waktu Sahur saat Lintasi 5 Zona Waktu
"Kami melaksanakan pelatihan di sana kurang lebih 45 hari, ditambah 15 hari, lalu ada masa sea trial sebulan lagi, jadi total ada tiga bulan," ungkap Kurniawan. Selama 90 hari tersebut, ABK 'Gen Z' digembleng mulai dari pengecekan sistem pendorongan, komunikasi antarpos tempur, hingga latihan peran sekoci untuk kondisi darurat.
Bergabung dengan KRI Brawijaya-320 di Surabaya
Penantian panjang itu akhirnya menemui titik akhir di Surabaya. Minggu pagi (29/3), KRI Prabu Siliwangi-321 tampak gagah merapat di dermaga untuk bersanding langsung dengan kembarannya, KRI Brawijaya-320. Kehadiran dua unit terbaru ini menjadi suntikan kekuatan besar bagi jajaran satuan kapal eskorta Komando Armada (Koarmada) II dalam menjaga kedaulatan laut NKRI. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































