Pulang dari Australia, KRI RE Martadinata Uji Meriam 76mm di Laut Banda

Jakarta, IDM – Tak ada waktu bersantai bagi KRI RE Martadinata-331. Meski baru saja menempuh perjalanan ribuan mil dari Sydney, Australia, kapal perang TNI AL ini langsung "memanaskan" mesin perang dengan melakukan uji tembak meriam secara masif di perairan Laut Banda, Kamis (9/4).
Latihan penembakan di tengah lintas laut menuju Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menjadi ajang pembuktian bahwa kesiapan tempur armada tetap berada di level tertinggi usai mengikuti ajang internasional Kakadu 2026. Kehadiran kapal jenis fregat ini di wilayah timur Indonesia sekaligus menjadi sinyal kuat kesiapsiagaan TNI AL menjaga kedaulatan perairan nasional.
Dalam latihan yang berlangsung intensif tersebut, prajurit jajaran Satuan Kapal Eskorta (Satkor) Komando Armada (Koarmada) II ini mengoperasikan berbagai sistem persenjataan canggih. Mereka memuntahkan amunisi dari meriam utama kaliber 76 mm serta meriam 35 mm untuk menyasar target simulasi.
Baca Juga: Lemdik Kemhan dan TNI Disiapkan untuk Latih Calon Pengawak Kopdes-Kampung Nelayan Merah Putih
Tak hanya senjata berat, prajurit di bawah komando Kolonel Laut (P) Andi Kristianto ini juga melatih ketangkasan menggunakan senjata ringan. Seluruh rangkaian penembakan berjalan profesional dan terukur untuk memastikan kesiapan sistem sensor serta persenjataan kapal tetap berada di level tertinggi.
Kepala Dinas Penerangan (Kadispen) Koarmada II Kolonel Laut (P) Antonius Februar, menjelaskan latihan penembakan ini bertujuan mengasah insting bertempur prajurit. Menurutnya, setiap personel harus memiliki kemampuan merespons berbagai skenario ancaman di laut secara cepat dan tepat.

"Latihan yang berkesinambungan ini merupakan implementasi dari perintah Panglima Koarmada II Laksamana Muda I Gung Putu Alit Jaya agar setiap unsur senantiasa meningkatkan profesionalisme dan kemampuan tempur dalam menghadapi dinamika keamanan di perairan Indonesia," ungkap Antonius dalam keterangannya, dikutip Jumat (10/4).
Sebelum melakukan manuver di Laut Banda, KRI RE Martadinata-331 menyelesaikan misi internasional dalam ajang latihan bersama multilateral Kakadu 2026. Latihan rutin antara TNI AL dan Angkatan Laut Australia ini bertujuan meningkatkan interoperabilitas serta kerja sama taktis kedua angkatan laut.
Dalam ajang tersebut, unsur TNI AL berlatih bersama dalam berbagai skenario, mulai dari peperangan laut, penegakan hukum di laut, hingga operasi kemanusiaan. Partisipasi KRI RE Martadinata-331 menjadi sarana strategis untuk berbagi pengalaman dan memperkuat hubungan bilateral antara Indonesia dan Australia di bidang pertahanan maritim.
KRI RE Martadinata-331 sendiri merupakan salah satu tulang punggung kekuatan TNI AL. Kapal kelas Martadinata (SIGMA 10514) ini memiliki kemampuan tempur modern, termasuk sistem pertahanan udara, rudal antikapal, serta radar dan sensor mutakhir yang mampu mendukung operasi peperangan antikapal selam.
Setelah merampungkan agenda di Laut Banda, kapal perang berkemampuan siluman ini melanjutkan pelayaran menuju Lombok sebelum nantinya kembali ke pangkalan utama di Surabaya, Jawa Timur. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































