Prajurit Denjaka Ikuti Force Integration Training di Pahang Malaysia

Jakarta, IDM - Sejumlah personel pasukan khusus TNI dan Angkatan Tentera Malaysia melaksanakan latihan bersama gabungan (latgabma) Malindo yang berlangsung dari 10-23 Maret di Malaysia.
Dikutip dari keterangan Dispen Kormar, Kamis (16/3), sebanyak 33 prajurit Detasemen Jalamangkara (Denjaka) TNI AL melaksanakan Force Integration Training yang digelar di Pahang, Malaysia, Rabu (15/3).
Force Integration Training yang dipimpin Letkol (Mar) M Abdullah itu adalah latihan menembak sniper, boat manuver dengan menggunakan sea rider dan free fall yang bertujuan mewujudkan interoperabilitas pasukan khusus.

Force Integration Training tersebut dalam rangka pelaksanaan Malindo Darsasa 11AB/2023. Latgamba ini adalah latihan bilateral yang dilaksanakan secara bergantian antara TNI dan ATM, bertujuan meningkatkan kemampuan pasukan khusus.
Baca Juga: Dankoopsus TNI Kirim Prajurit Latihan Gabungan Bersama Malindo Darsasa-11AB/2023
Sebelumnya, Mabes TNI mengerahkan 131 prajurit terbaiknya untuk latgabma Malindo. Ratusan prajurit TNI tersebut terdiri dari Komando Pasukan Khusus (Kopassus), Detasemen Jalamangkara (Denjaka), dan Komando Pasukan Gerak Cepat (Kopasgat). (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































