Prajurit Danyonif 2 Marinir Terima Pembekalan Jelang Misi Perdamaian

Jakarta, IDM – Komandan Batalyon Infanteri 2 Marinir (Yonif 2 Mar), Letkol (Mar) Indra Fauzi Umar, memberikan pembekalan kepada prajurit satuannya, menjelang pelaksanaan misi perdamaian PBB.
Pada pembekalan yang digelar di Jakarta pada Senin (24/2), Indra berharap prajurit Yonif 2 Mar dapat menjalankan tugas dengan baik dan penuh tanggungjawab.
Baca Juga: Kapal Perang Indonesia Latihan dengan Fregat Mogami Jepang di Laut Banda
Selain itu, ia juga meminta prajuritnya untuk selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan serta menjaga integritas selama melaksanakan tugas di luar negeri.
"Tugas kita bukan hanya sebagai tentara Indonesia, tetapi juga sebagai bagian dari misi perdamaian dunia," ujar Indra, dikutip dari instagram @pasmar_1_korps_marinir, Selasa (25/2).
Baca Juga: TNI AD Gandeng Perusahaan Keramik untuk Bangun Rumah Prajurit
Indra juga berharap para prajurit dapat menjaga sikap dan perilaku selama menjalankan tugas dan kembali ke Tanah Air dengan selamat.
"Kalian adalah duta bangsa yang membawa nama baik Indonesia. Oleh karena itu, setiap tindakan kalian harus mencerminkan kedamaian dan solidaritas internasional," tandas Indra. (un)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































