Pesawat PT AMA Dibakar di Yahukimo, Keselamatan Pilot dan Penumpang Masih Diselidiki

Jakarta, IDM – Pesawat PT AMA dibakar orang tak dikenal (OTK) di Lapangan Terbang Balinggama, Distrik Sobaham, Yahukimo, Papua Pegunungan, Kamis (2/7). Pesawat diduga dibakar Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB).
“Kejadiannya (pembakaran) betul, tapi terkait hal yang lainnya masih dalam penyelidikan,” ujar Kepala Satgas Humas Ops Damai Cartenz 2026 Kombes (Pol) Yusuf Sutejo saat dikonfirmasi wartawan.
Baca Juga: Saat Prajurit Marinir Ajari Militer Asing Cara Bertahan Hidup Tanpa Logistik
Saat ini, Koops TNI Habema juga menyelidiki kejadian tersebut, termasuk keselamatan pilot dan penumpang.
Pesawat PT AMA dengan register PK-RCY itu awalnya terbang perintis dari Bandar Udara Wamena menuju Lapter Balinggama.
Baca Juga: Bukan Cuma Disiplin Baja, Komandan Kapal Perang Kini Dituntut Paham Psikologi Modern
Pesawat lepas landas dari Bandara Wamena pada pukul 06.27 WIT dan tiba di Lapter Balinggama pada pukul 06.47 WIT.
Pesawat dipiloti oleh Nicholas F. Goselin yang mengangkut tujuh penumpang.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































