HANKAM

Pesawat Casa dan Helikopter Bell Dipilih TNI AL untuk Jangkau Titik Tanpa Landasan di Aceh–Sumatra

KSAL Laksamana Muhammad Ali
KSAL Laksamana Muhammad Ali memberikan keterangan pers usai memimpin upacara militer Hari Armada 2025 di Koarmada II, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (5/12). (IDM/Muhammad Hidayat)

Surabaya, IDM – TNI AL menambah armada udara dalam operasi penanggulangan bencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali mengungkapkan, pesawat Casa dan helikopter Bell dipilih karena mampu menjangkau wilayah-wilayah yang terputus jalur darat maupun tidak memiliki landasan memadai.

“Casa ini bisa mendarat di landasan pendek dan lebih fleksibel gerakannya,” ungkap Ali kepada awak media, usai peringatan Hari Armada RI di Koarmada II, Surabaya, Jawa Timur, Jumat (5/12). Ia menyebut satu pesawat Casa saat ini sudah dikerahkan, dan dalam waktu dekat akan ditambah satu unit lagi.

Baca Juga: KSAL Ungkap Alasan Dislambair Berubah Menjadi Satkoppeba

Selain Casa, TNI AL juga menyiapkan tambahan helikopter Bell untuk menjangkau titik-titik terisolir.

“Helikopter itu bisa masuk ke daerah yang betul-betul terputus akses daratnya,” ujar Ali. Mobilitas udara, lanjutnya, menjadi krusial karena masih ada sejumlah area terdampak yang hanya bisa dicapai lewat udara atau laut.

KSAL Laksamana Muhammad Ali
(IDM/Muhammad Hidayat)

Ali mengatakan operasi bantuan kali ini dilakukan secara terpadu bersama BNPB, TNI–Polri, dan pemerintah daerah. Selain unsur udara, 13 KRI telah berada di area bencana, termasuk dua kapal rumah sakit. Unsur Korps Marinir dari Batalion Zeni juga akan membantu pembukaan jalur darat, rekonstruksi, serta dukungan kesehatan lapangan.

Hingga kini, TNI AL masih melakukan penilaian terhadap wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau. Durasi operasi pun akan menyesuaikan kebutuhan di lapangan.

Baca Juga: Dorong Distribusi Logistik Pascabencana di Sumatra, Kemhan Kerahkan 4 Unit Taktis

“Nanti BNPB dan pemda yang menentukan sampai kapan. Kalau masih dibutuhkan, kami tetap di sana,” tegas Ali.

Menurut laporan lapangan, beberapa titik di Aceh Tamiang sudah mulai terbuka akses daratnya. Namun sejumlah lokasi di pesisir dan pulau-pulau terluar, termasuk Nias, masih mengandalkan suplai logistik melalui udara dan laut.

Dengan penguatan armada udara ini, Ali berharap distribusi bantuan dan evakuasi korban di titik-titik terisolir dapat berlangsung lebih cepat dan presisi. “Harus the first in action. Semua kekuatan akan kita kerahkan semaksimal mungkin,” ucapnya. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.