HANKAM

Pergantian Jabatan, Dangrup 1 Angkut Pimpin Sertijab Komandan Skadron Udara 4

Sertijab Komandan Skadron Udara 4
Upacara sertijab Komandan Skadron Udara 4 yang dipimpin oleh Komandan Grup 1 Angkut Marsma TNI Ali Gusman. (Foto: Dok. Instagram @grup_1_angkut_koopsau)

Jakarta, IDM – Komandan Grup 1 Angkut Marsma TNI Ali Gusman memimpin upacara serah terima jabatan (sertijab) Komandan Skadron Udara 4 Wing Udara 1.2 yang berlangsung di apron Skadron Udara 4, Selasa (13/1).

Dalam upacara tersebut, Letkol Pnb Muhammad Susilo Adisaputra secara resmi menyerahkan jabatan Komandan Skadron Udara 4 kepada Mayor Pnb Andika Ardyagana.

Pergantian jabatan di tubuh TNI Angkatan Udara (TNI AU) dimaknai sebagai langkah strategis untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan serta meningkatkan kualitas pembinaan satuan, yang sejalan dengan dinamika organisasi.

Baca Juga: Perkuat Sistem Pemeliharaan Alpalhankam, Dankoharmatau Pimpin Alih Kodal Skatek ke Depohar

“Melalui proses ini, estafet kepemimpinan dapat berjalan secara terencana dan berkesinambungan, sekaligus memberikan ruang bagi perwira yang dipercaya untuk mengembangkan kemampuan kepemimpinan dan manajerialnya,” ungkap Marsma TNI Ali, dikutip dari unggahan instagram @grup_1_angkut_koopsau, Rabu (14/1).

Seiring berakhirnya masa tugas Letkol Pnb Muhammad Susilo sebagai Danskadron 4, Marsma TNI Ali menyampaikan apresiasi atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan, serta berharap kesuksesan senantiasa menyertai perjalanan kariernya.

Komandan Grup 1 Angkut Marsma TNI Ali Gusman
Komandan Grup 1 Angkut Marsma TNI Ali Gusman memimpin upacara sertijab Komandan Skadron Udara 4. (Foto: Dok. Instagram @grup_1_angkut_koopsau)

Sementara itu, kepada Mayor Pnb Andika, Dangrup 1 Angkut berpesan agar dapat melanjutkan program-program yang telah berjalan, sekaligus menghadirkan inovasi yang adaptif dalam merespons setiap tantangan tugas yang semakin kompleks.

Baca Juga: 8 Prajurit Kopassus Terima Penghargaan Sangkur Perak

Pesan tersebut sejalan dengan peran dan tanggung jawab Skadron Udara 4 yang memiliki posisi strategis di jajaran TNI Angkatan Udara. Skadron Udara 4 yang memiliki home base di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, mengoperasikan pesawat angkut ringan Cassa 212.

Satuan ini memiliki peran strategis dalam mendukung berbagai operasi, khususnya penanggulangan bencana. Melalui pengoperasian pesawat tersebut, Skadron Udara 4 berperan aktif dalam penganggulangan bencana di tiga Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, termasuk pengangkutan bantuan kemanusiaan, pelaksanaan pemetaan udara, serta dukungan operasi lainnya di wilayah-wilayah terdampak bencana.

“Apresiasi juga saya sampaikan kepada seluruh personel Skadron Udara 4 atas dedikasi dan loyalitas dalam operasi kemanusiaan penanggulangan bencana hidrometeorologi di wilayah Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat,” pungkas Komandan Grup 1 Angkut. (yas)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.