HANKAM

Penerbang TNI AL Latihan Kemampuan Terbang Malam Kondisi Minim Cahaya

Latihan terbang malam.
Penerbang dari Skuadron 600 dan 800 Wing Udara 2 Puspenerbal latihan terbang malam, Sidoarjo, Kamis (15/5). (Foto: Dok. Dispen Puspenerbal)

Jakarta, IDM – Skuadron Udara 600 dan 800 Wing Udara 2 Pusat Penerbangan Angkatan Laut (Puspenerbal) menggelar latihan intensif terbang malam untuk memantapkan kualifikasi personel penerbang, Sidoarjo, Kamis (15/5).

Komandan Skuadron Udara 600 Mayor Laut (P) Marwanto, menjelaskan ada perbedaan signifikan antara penerbangan siang dan malam hari yang menuntut adanya penyesuaian khusus dari setiap personel.

"Latihan ini krusial untuk menghindari disorientasi spasial yang lebih rentan terjadi dalam kondisi minim cahaya," jelas Marwanto, dikutip dari keterangan Dispen Puspenerbal, dikutip Minggu (18/5).

Baca Juga: Puluhan Siswa Taifib “Lompat” ke Laut dari KRI Tombak-629

Selain itu, menurutnya latihan ini tidak hanya bertujuan mengasah kemampuan terbang pada kondisi minim cahaya, tetapi juga melatih para perwira dalam peran captaincy serta mempersiapkan instruktur penerbang baru.

"Kemampuan beradaptasi dan mempertahankan orientasi dalam kegelapan menjadi kompetensi inti yang harus dikuasai oleh setiap penerbang, mengingat potensi operasi di berbagai kondisi lingkungan, baik konteks operasi militer perang maupun operasi militer selain perang," ujar Marwanto.

Adapun latihan melibatkan sejumlah penerbang senior dan junior, termasuk Mayor Laut (P) Anjun dan Kapten Laut (P) Rana yang berperan dalam captaincy dan instruksi, didampingi oleh instruktur King Air, Mayor Laut (P) Widyas.

Selain itu, Lettu Laut (P) Zaki dan Lettu Laut (P) Imam turut serta dalam pemantapan kualifikasi terbang malam.

Sementara Komandan Wing Udara 2 Kolonel Laut (P) Adam Firmansyah, menyampaikan latihan terbang malam merupakan agenda rutin yang dilaksanakan untuk membiasakan para penerbang TNI AL beroperasi dalam situasi yang tidak lazim.

Baca Juga: Kronologi TNI AL Tangkap Kapal Ikan Thailand, Bawa 1,9 Ton Narkoba

"Latihan ini dirancang meningkatkan kesiapan operasional dan kemampuan adaptasi para penerbang terhadap tantangan lingkungan beragam. Kemampuan terbang malam mumpuni akan memperkuat daya gempur dan fleksibilitas operasional armada udara TNI AL dalam berbagai skenario penugasan," kata Adam.

Sedangkan Komandan Skuadron Udara 800 Letkol Laut (P) Novi menambahkan mengenai pentingnya latihan terbang malam sebagai sarana efektif untuk menguji dan meningkatkan kemampuan sensorik serta pengambilan keputusan para penerbang dalam kondisi visual yang terbatas.

"Kemampuan untuk menginterpretasikan instrumen pesawat dan lingkungan sekitar tanpa mengandalkan penglihatan optimal adalah keterampilan krusial yang diasah secara intensif melalui latihan ini," tuturnya. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.