Panglima TNI: Keteladanan Marsma Fajar Adriyanto dalam Menjaga Langit Indonesia Akan Jadi Inspirasi

Jakarta, IDM – Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto turut menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas meninggalnya Kepala Kelompok Staf Ahli (Kapoksahli) Kodiklat TNI AU (Kodiklatau) Marsma Fajar Adriyanto dalam insiden kecelakaan pesawat di Ciampea, Kabupaten Bogor, Minggu (3/8).
“Semangat, keteladanan, dan pengabdian Marsma TNI Fajar Adriyanto akan senantiasa menjadi inspirasi bagi generasi penerus dalam menjaga langit Indonesia,” kata Panglima Agus, dikutip dari siaran pers Pusat Penerangan TNI, Senin (4/8).
Fajar yang memiliki call sign “Red Wolf”, merupakan pilot jet tempur F-16 TNI Angkatan Udara. Almarhum pernah terlibat dalam peristiwa udara dengan pesawat tempur F/A-18 Hornet Angkatan Laut Amerika Serikat di langit Bawean pada 2003.
Baca Juga: Babinsa TNI AD dan Warga Gotong Royong Rehab Sekolah dengan Biaya Sendiri
Agus juga menyempatkan melayat ke rumah duka di Kompleks TNI AU Triloka, Pancoran, Jakarta Selatan, pada Minggu malam.
Di hadapan awak media, Agus menyebut bahwa Fajar merupakan sosok hangat dan bersahaja. Agus dan Fajar pernah menjalani pendidikan bersama di Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia (Sesko TNI) pada 2014.

Agus juga menyampaikan bahwa almarhum adalah sosok yang ramah dan selalu tersenyum, bahkan dalam situasi sulit. “Beliau itu senyum terus, selalu senyum, bahkan saat menghadapi masalah. Mudah-mudahan ini yang terbaik untuk beliau,” tutur Panglima TNI.
Baca Juga: Gelar Space SMEE dengan HING, TNI AU Perkuat Fondasi Satuan Antariksa
Adapun pesawat yang ditumpangi Fajar merupakan pesswat latih sipil Microlight Fixedwing Quicksilver GT500 dengan register PK-S126 milik Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). Fajar sebagai pilot dan Roni co-pilot.
Pesawat lepas landas dari Pangkalan TNI AU (Lanud) Atang Sendjaja, Bogor, pada Minggu pukul 09.08 WIB, dalam rangka misi latihan profisiensi penerbangan olahraga dirgantara sebagai bagian dari pembinaan dan pemeliharaan kemampuan.
Sekitar pukul 09.19 WIB, pesawat mengalami hilang kontak dan ditemukan jatuh di sekitar tempat pemakaman umum (TPU) Astana.
“Kedua awak langsung dievakuasi ke RSAU dr. M. Hassan Toto, namun Marsma TNI Fajar dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit,” tulis siaran pers Dinas Penerangan TNI AU.
Latihan itu merupakan bagian dari latihan rutin pembinaan kemampuan personel FASI, induk olahraga dirgantara nasional yang berada di bawah binaan TNI AU.
TNI AU menyatakan, penerbangan telah dilengkapi Surat Izin Terbang (SIT) nomor SIT/1484/VIII/2025 yang diterbitkan Lanud Atang Sendjaja. Pesawat dinyatakan laik terbang dan merupakan sortie kedua pada hari itu. (nma)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































