Pangkohanudnas: Pertahanan Udara Harus Dibangun dengan Sistem Terpadu Berbasis Layered Defense

Jakarta, IDM – Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono menegaskan bahwa pertahanan udara nasional harus dibangun sebagai sistem terpadu berbasis layered defense.
Hal tersebut disampaikan Pangkohanudnas saat ditemui redaksi Indonesia Defense Magazine di Makohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Rabu (25/2).
Pangkohanudnas kemudian mengelaborasi bahwa kekuatan utama sistem terpadu terletak pada integrasi sensor–shooter, kecepatan komando dan kendali, serta kemampuan deteksi dini terhadap spektrum ancaman modern.
Kemudian, ia menekankan bahwa penguatan pertahanan udara bertumpu pada arsitektur sistem yang terhubung adaptif, dan prediktif, tidak semata pada keunggulan platform. “Pendekatan ini krusial untuk memastikan ruang udara nasional tetap terkendali secara efektif di tengah dinamika lingkungan strategis yang terus berkembang,” tegas Andyawan.

Pengukuhan Kohanudnas
Kohanudnas secara resmi dikukuhkan pada 10 Agustus 2025 melalui Upacara Gelar Pasukan Operasional dan Kehormatan Militer yang dipimpin Presiden RI Prabowo Subianto. Dalam upacara tersebut, Marsdya TNI Andyawan Martono dilantik sebagai Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional.
Sebagai komando yang berada langsung di bawah Panglima TNI, Kohanudnas dibentuk untuk mempertegas prinsip unity of command dalam sistem pertahanan udara terpadu.
Baca Juga: Revisi Doktrin SBP, KSAU: Perkuat Peran TNI AU Wujudkan Pertahanan Udara Nasional yang Adaptif
Melalui pelibatan kekuatan udara TNI Angkatan Darat (TNI AD), TNI Angkatan Laut (TNI AL), dan TNI Angkatan Udara (TNI AU), Kohanudnas mengintegrasikan seluruh unsur pertahanan udara guna menjaga kedaulatan ruang udara Indonesia secara efektif dan terkoordinasi.
Dengan struktur dan kewenangan tersebut, Kohanudnas dapat menjadi garda terdepan dalam menjaga langit nusantara, melindungi kepentingan nasional, dan mendukung stabilitas keamanan negara, guna mewujudkan pertahanan udara kuat menuju Indonesia berdaulat.
Untuk mendapatkan telaah yang lebih mendalam mengenai tugas dan fungsi Kohanudnas, redaksi Indonesia Defense Magazine berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Pangkohanudnas Marsdya TNI Andyawan Martono. Hasil wawancara tersebut dijawalkan terbit pada majalah IDM edisi ke-45, April 2026. (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































