Secara umum, sistem pertahanan udara nasional telah memiliki fondasi operasional yang berjalan efektif. Kita telah membangun jaringan radar tetap dan mobile, menyiagakan unsur pesawat tempur siaga sebagai Quick Reaction Alert/QRA, serta membangun sistem pertahanan udara darat berbasis meriam dan rudal, baik pada jarak pendek maupun menengah. Selain itu, struktur komando Kohanudnas juga telah memungkinkan proses pengamatan, identifikasi, hingga penindakan dapat berjalan dalam satu rantai komando terintegrasi.
TNI melalui Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) akan membangun Markas Komando Pertahanan Udara Nasional (Makohanudnas) baru di wilayah Jatimakmur, Bekasi, Jawa Barat.
Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono menegaskan bahwa pertahanan udara nasional harus dibangun sebagai sistem terpadu berbasis layered defense.
Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono meninjau langsung kesiapsiagaan unsur-unsur pertahanan udara TNI yang berada di bawah kendali Kohanudnas, dua di antaranya adalah Detasemen Artileri Pertahanan Udara (Arhanud) 003/ARK dan Satuan Rudal (Satrudal) 421.
Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono memimpin acara serah terima jabatan (sertijab) Asisten Komunikasi dan Elektronika (Askomlek) Kaskohanudnas yang digelar di Ruang Rapat Kohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta, Selasa (30/12).
Panglima Komando Pertahanan Udara Nasional (Pangkohanudnas) Marsdya TNI Andyawan Martono menyoroti nilai strategis latihan berskala besar seperti Large Force Employment (LFE) dalam membangun interoperabilitas dan kesiapan unsur udara TNI.