Pangkoarmada II Terima Courtesy Call Athan Angkatan Laut Australia, Ini yang Dibicarakan

Jakarta, IDM - Pangkoarmada II Laksamana Muda TNI Maman Firmansyah menerima courtesy call Atase Pertahanan (Athan) Angkatan Laut Australia di Surabaya, Jumat (28/7).
Dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, courtesy call dari Athan Angkatan Laut Australia dipimpin oleh Captain Rod Griffiths, didampingi oleh Fiona Hoggart, Commander Mark Graichen, dan Chief Petty Officer Warner Berrie.
Baca Juga: Dankormar Pimpin Penyerahan Jabatan Dandenjaka dan Sertijab Danlanmar Sorong
Pada kesempatan tersebut, Maman mengucapkan selamat datang kepada Griffiths. Ia berharap kunjungan ini dapat membuka ruang diskusi ataupun beberapa kerja sama yang baik antar negara, khususnya bagi TNI AL.

"Dan berharap dapat lebih mempererat persahabatan antar kedua negara yang selama ini telah terjalin dengan baik," ujar Maman.
Baca Juga: Panglima TNI Minta Staf Ahli Kaji Persoalan Papua
Di kesempatan yang sama, Griffiths menyampaikan ucapan terima kasih atas sambutan dari Maman beserta staf Koarmada II.
"Kami berharap kerja sama ke depan antara Indonesia dan Australia, terutama Koarmada II dengan Angkatan Laut Australia bisa terjalin lebih baik lagi," kata Griffiths. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































