Pangkoarmada II Pimpin Briefing Pelatihan Calon Pengawak KRI

Jakarta, IDM - Pangkoarmada II Laksamana Muda TNI TSNB Hutabarat, memimpin briefing awal Pelatihan Kesatuan Persiapan Pengambilan Kapal (KPPK) calon awak kapal perang (KRI), Surabaya, Senin (30/1).
Dikutip dari keterangan Dispen Koarmada II, pelatihan dilaksanakan untuk calon pengawak untuk KRI Pulau Fani-731 dan KRI Pulau Fanildo-732, jenis mine counter measure vessel (MCMV) di Pusat Latihan Kapal Perang Koarmada II, Surabaya.

Nantinya, pelatihan KPPK tersebut akan dikerahkan sebanyak 106 orang calon pengawak yang masing-masing terbagi 53 orang dari KRI Pulau Fani-731 dan 53 orang lainnya dari KRI Pulau Fanildo-732.
Dalam amanatnya, TSNB Hutabarat menyampaikan pelatihan ini akan mempermudah calon pengawak KRI dalam mempelajari ilmu-ilmu dasar dan penguasaan prosedur pengoperasian peralatan yang ada di kelas KRI MCMV.
Baca: Kontingen Garuda UNIFIL Jadi Juara Bertahan SASCO di Lebanon
Selain itu, TSNB Hutabarat juga menekankan kepada peserta latihan alias calon pengawak KRI Pulau Fani-731 dan KRI Pulau Fanildo-732 agar mengikuti kegiatan latihan dengan sebaik-baiknya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































