Nilainya Rp2,5 T! KSAL Bocorkan SRV Inggris Penyelamat Kapal Selam Tiba 2027

Jakarta, IDM – Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Muhammad Ali membocorkan jadwal kedatangan alutsista penyelamat kapal selam asal Inggris. Proyek strategis yang telah diinisiasi sejak masa kepemimpinan Prabowo Subianto saat menjabat Menteri Pertahanan ini bernilai £128 juta atau setara Rp2,5 triliun dan dijadwalkan tiba pada pertengahan 2027.
Ali menegaskan, kendaraan penyelamat bawah air yang dikenal sebagai Submersed Rescue Vehicle (SRV) tersebut akan ditempatkan secara menetap (onboard) pada KRI Canopus-936. Kehadiran unit penyelamat ini menjadi jawaban nyata atas komitmen modernisasi alutsista TNI AL yang telah diteken sejak September 2023 silam.
"Kapal penyelamat atau SRV itu dibangun di Inggris. Mungkin pertengahan 2027 akan hadir dan nanti akan onboard di KRI Canopus ini," ujar Ali di Dermaga Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Senin (11/5).
Baca Juga: Tak Cuma Survei Laut, KRI Canopus-936 Bisa untuk SAR Kapal Selam
Penempatan SRV tersebut otomatis mengubah peran KRI Canopus-936 menjadi kapal induk (mothership) penyelamat. Selain bertugas menjalankan pemetaan laut lewat survei hidrografi, armada ini mengemban peran vital untuk mengevakuasi personel jika kapal selam mengalami kendala teknis atau kondisi tidak berdaya (disable).
"Jadi selain berfungsi untuk survei, kapal ini juga bisa melaksanakan pertolongan terhadap kapal selam apabila mengalami kendala teknis. Sensor bawah airnya sangat canggih, ada robot bawah laut berkabel (Remotely Operated Vehicle/ROV) hingga kendaraan otomatis tanpa kabel (Autonomous Underwater Vehicle/AUV)," tuturnya.
Berdasarkan data Kementerian Pertahanan RI, alutsista yang dipesan merupakan tipe SRV-F Mk.3 buatan SMP Inggris. Unit ini mengusung konsep mutakhir "One Out, All Out", yang memungkinkan evakuasi seluruh kru kapal selam dalam satu kali perjalanan saja. Hal ini berkat kapasitas angkutnya yang mampu menampung hingga 50 orang penumpang sekaligus.
Baca Juga: Prajurit TNI AD Diganjar Penghargaan Berkat Aksi Heroik di Jembatan Merah Putih
Kapal penyelamat ini akan dioperasikan oleh Komando Operasi Kapal Selam (Koopkasel). Selain dibekali drone bawah laut, armada ini dilengkapi dengan fasilitas medis darurat berupa dedicated decompression chamber atau ruang dekompresi khusus untuk memberikan pertolongan pertama bagi awak kapal selam yang berhasil diselamatkan dari tekanan tinggi bawah laut.
Proyek jumbo ini didukung oleh lembaga kredit ekspor Inggris, UK Export Finance (UKEF), melalui kemitraan dengan perusahaan lokal PT BTI Indo Tekno. Pengerjaannya melibatkan dua spesialis kelautan asal Bristol dan York, yakni Submarine Manufacturing and Products Limited (SMP) serta Forum Energy Technologies (FET).
Meski unit penyelamat utamanya baru hadir di 2027, KRI Canopus-936 saat ini sudah mengoptimalkan sensor-sensor Eropa yang mampu memindai hingga kedalaman 11.000 meter. Kapal sepanjang 105 meter ini juga mencatat capaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melampaui 60 persen berkat keterlibatan galangan PT Palindo Marine di Batam dalam pengerjaan strukturnya. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































