Mutasi Perdana, Panglima Agus Geser 4 Nama Pati TNI AL

Jakarta, IDM - Mutasi perdana terjadi di tubuh TNI, pascadilantiknya Panglima Jenderal Agus Subiyanto. Sebanyak 49 perwira tinggi (Pati) mendapatkan rotasi dan promosi jabatan, empat di antaranya merupakan dari matra laut.
Dikutip dari keterangan Puspen TNI, Kamis (30/11), mutasi berdasarkan Surat Keputusan Panglima TNI Nomor Kep/1384/XI/2023 tanggal 29 November tentang pemberhentian dari dan pengangkatan dalam jabatan di lingkungan TNI.
Baca Juga: Wamenhan Herindra Terima Bintang Jasa dari TNI AL
"Telah ditetapkan rotasi dan promosi jabatan 49 Pati TNI terdiri dari TNI AD (40), TNI AL (4), dan TNI AU (5)," ujar Kapuspen TNI Laksamana Muda Julius Widjojono.
Empat Pati TNI AL terdiri dari Laksamana Muda Yayan Sofiyan dari Pangkoarmada II menjadi Asisten Operasi (Asops) KSAL, Laksamana Muda Denih Hendrata dari Asops KSAL dipromosikan sebagai Pangkoarmada II.
Baca Juga: Kerahkan Pesawat Tempur dan Tanker, TNI AU-RSAF Gelar Latihan Air to Air Refueling
Kemudian, Laksamana Pertama Gatot Sugiarto dari Kepala Badan Pembekalan (Kababek) TNI menjadi staf khusus KSAL dan Mayjen (Mar) Edi Juardi dari staf kusus KSAL menjadi Pati Mabes TNI AL (dalam rangka pensiun). (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































