Menhan Sjafrie Buka Fakta di Balik Kunjungan ke AS, Tegaskan Tak Ada Komitmen Overflight

Jakarta, IDM – Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin akhirnya membuka secara rinci latar belakang kunjungannya ke Amerika Serikat sekaligus menjawab berbagai spekulasi dan hoaks terkait isu akses lintas udara (overflight access) bagi militer AS di wilayah Indonesia.
Dalam penjelasannya di hadapan anggota Komisi I DPR RI, Selasa (19/5), Sjafrie menuturkan pemerintah Indonesia tidak menandatangani komitmen apa pun yang dapat mengurangi kedaulatan nasional.
Dokumen yang ditandatangani hanyalah Letter of Intent (LoI) yang bersifat penjajakan kerja sama dan tetap berlandaskan prinsip penghormatan terhadap integritas wilayah serta kepentingan nasional Indonesia.
Baca Juga: Bahas Alutsista, Panglima AL Belanda Soroti Poros Kapal Selam RI-Belanda ke Prancis
“Kami tidak bikin komitmen apa-apa dengan Amerika Serikat dalam hal udara. Kami mempertahankan konstitusi dan kami mempertahankan kepentingan nasional,” tegas Sjafrie.
Menhan Sjafrie pun buka-bukan ihwal pembicaraan mengenai akses lintas udara dengan AS. Hal itu bermula saat pertemuan bilateral empat mata dengan Menteri Pertahanan Amerika Serikat dalam forum ASEAN Defense Ministers Meeting Plus (ADMM-Plus) tahun 2025.
Dalam pertemuan itu, pihak AS disebut menyampaikan apresiasi terhadap strategi pertahanan Indonesia yang berkarakter “defensive active”.
Sjafrie mengungkapkan, Washington menilai Indonesia bukan negara ofensif, melainkan negara yang fokus menjaga wilayah dan rakyatnya, namun tetap siap mempertahankan diri apabila diserang.
Baca Juga: Panglima AL Belanda Peringatkan Ancaman Sabotase Kabel Bawah Laut dan Celah Hukum UNCLOS
Dari titik itulah muncul permintaan informal dari AS terkait kemungkinan melintas di wilayah udara Indonesia untuk kebutuhan tertentu yang dianggap mendesak.
Meski begitu, Sjafrie menegaskan dirinya tidak memberikan keputusan sepihak. Ia langsung menyampaikan bahwa segala keputusan strategis harus dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto selaku Panglima Tertinggi TNI.
“Dia meminta untuk membahas kemungkinan melintas dari udara, membahas, bukan memutuskan. Jadi belum ada keputusan apa pun,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Sjafrie juga mengungkap sisi diplomatik yang selama ini jarang diketahui publik, yakni berakhirnya pembatasan terhadap personel pasukan khusus Indonesia yang pernah bertugas di Timor Timur.
Baca Juga: KSAD Maruli Buka Suara Soal Film “Pesta Babi”
Ia mengaku sempat menyampaikan kepada Menhan AS bahwa dirinya pernah terkena larangan masuk ke Amerika Serikat karena rekam jejak sebagai prajurit pasukan khusus di Timor Timur. Namun, menurut Sjafrie, pihak AS kini telah mengubah pendekatan.
“Tidak ada lagi ban-banan. Semua special forces akan kita berikan kesempatan yang sama dengan yang lain,” kata Sjafrie.
Perubahan sikap itu kini membuka ruang baru dalam kerja sama pendidikan militer, latihan gabungan, hingga peningkatan kapasitas pasukan khusus Indonesia dengan Amerika Serikat. (Ykb)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































