Menhan Prabowo tentang Bakal Calon Panglima: Nama yang Sampai ke DPR, Pasti Lalui Seleksi Profesional

Jakarta, IDM - Menteri Pertahanan RI, Prabowo Subianto meyakini Presiden Joko Widodo (Jokowi) pasti mengajukan nama terbaik untuk kursi Panglima TNI. Hal tersebut diungkapnya usai menghadiri rapat kerja bersama Komisi I DPR RI di Senayan, Jakarta, Senin (28/11).
Menhan Prabowo mengatakan, keyakinannya itu merujuk pada proses yang berlaku. Sehingga menurutnya, siapapun bakal calon pengganti Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, pasti melewati seleksi ketat.
"Saya kira, orang yang namanya disampaikan ke DPR, pasti melalui seleksi yang baik, alamiah dan profesional. Kita yakin akan yang terbaik," ujar Menhan Prabowo.
Surat Presiden (Surpres) berisi nama calon Panglima TNI disebut akan diterima DPR sore ini. Jika telah diterima Komisi I DPR akan segera menggelar uji kelayakan dan kepatutan nama tersebut.
Tiga kepala staf TNI, yakni Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana TNI Yudo Margono, Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fadjar Prasetyo dan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Dudung Abdurrahman berpeluang menjadi Panglima TNI menggantikan Andika yang segera memasuki masa pensiun. (un)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































