Mengenal Caraka Malam, Teknik Komunikasi Militer untuk Menyampaikan Pesan Rahasia

Solo, IDM – Caraka Malam merupakan salah satu teknik komunikasi yang digunakan oleh para personel militer di zaman dahulu saat teknologi komunikasi dan informasi masih belum berkembang pesat seperti saat ini.
Personel militer yang melakukan kegiatan Caraka Malam harus mampu menyampaikan pesan rahasia dari atasan secara langsung kepada penerima pesan dengan benar dan akurat, tanpa bantuan teknologi seperti telepon, pesan singkat maupun internet.
Redaksi Indonesia Defense Magazine bersama puluhan peserta kegiatan ‘Outbound Media Dirgantara dan Airmen Gathering’ lainnya berkesempatan untuk merasakan langsung bagaimana mengirim pesan rahasia melalui kegiatan Caraka Malam.
Kegiatan tersebut berlangsung di Lanud Adi Soemarmo, Solo, Rabu (4/9). Sebelum dimulai, Komandan Skadron Pendidikan (Skadik) 403 Letkol Kes Bakti Joko bersama para pelatih skadik lainnya terlebih dahulu memberikan pengarahan perihal apa saja yang harus dilakukan dan perlu menjadi perhatian para peserta selama melakukan kegiatan Caraka Malam.
Dalam praktiknya, puluhan peserta yang terdiri dari awak media dan masyarakat (airmen) tersebut dibagi ke dalam sejumlah kelompok. Masing-masing kelompok terdiri dari lima orang anggota dan diberikan amplop berisi pesan rahasia serta kode komunikasi yang harus mereka gunakan selama menempuh perjalanan dari titik awal hingga titik akhir.
Adapun medan perjalanan yang harus dilalui oleh para peserta berupa kebun yang gelap dengan penerangan minim, hanya berupa lampu pancing malam. Lampu tersebut juga berfungsi sebagai penanda arah.
Baca Juga: Panglima TNI Ucapkan Terima Kasih, UAE Bantu Pengiriman Nakes ke Gaza
Untuk bisa mencapai titik akhir, para peserta juga harus melalui sejumlah pos, di mana salah satunya adalah pos ‘meraba’. Di sana, tiga dari lima orang peserta harus menutup mata mereka masing-masing dan menebak benda apa yang mereka sentuh.

Menurut Rafidah Rahmah, salah satu airmen asal Kota Bekasi, Caraka Malam merupakan salah satu kegiatan yang menantang lantaran dilakukan di malam hari dan ia harus tetap berkonsentrasi di tengah kondisi medan yang begitu gelap.
“Saat kegiatan Caraka Malam, menurut saya bagian yang paling sulit adalah saat kelompok kami harus berhenti di suatu pos dan di sana kami harus meraba benda yang terdapat di dalam ember. Sayangnya, kelompok kami tidak ada yang berhasil menebak benda-benda tersebut,” jelas perempuan yang akrab disapa Pida ini kepada Indonesia Defense Magazine.
Airmen lainnya, Yudhi Selvina Yulianti asal Depok mengatakan, pada awalnya ia merasa cukup gugup saat akan melakukan Caraka Malam, khususnya ketika ia harus menghapal pesan yang diberikan.
Baca Juga: Pelayaran Etape Kelima KJK 2024, KRI Bima Suci Sandar di Shanghai
"Saat awal dijelaskan bagaimana Caraka Malam agak deg-degan, karena disuruh menghafal kalimat. Karena hafalannya hanya di bagian awal saja, jadi saat menyusuri hutan atau kebun itu ada aja yang membuat otak saya blank. Saat tiba di titik (pos) yang terakhir, benar saja, malah nambah satu kata dan akhirnya kami mendapat hukuman. Tapi, kegiatannya seru banget,” pungkas Yudhi.
‘Outbound Media Dirgantara dan Airmen Gathering’ merupakan kegiatan yang digelar oleh Dinas Penerangan Angkatan Udara (Dispenau) untuk menjaga sinergisitas dan komunikasi dengan para awak media serta masyarakat umum (airmen).
Kesempatan yang sama turut dimanfaatkan oleh TNI Angkatan Udara (TNI AU) untuk memperkenalkan peran Lanud Adi Soemarmo dalam mencetak dan mendidik para prajurit siswa untuk menjadi bintara TNI AU yang andal serta profesional.
Selain Caraka Malam, kegiatan lainnya yang turut diikuti oleh para peserta pada kegiatan Dispenau ini di antaranya kunjungan ke Sakdron Pendidikan (Skadik) 402; Skadik 404; serta Skadik 401. Kemudian, para peserta mengikuti kegiatan psikologi lapangan dan outbound. Keseluruhan kegiatan tersebut dilaksanakan di kawasan Lanud Adi Soemarmo, Solo sejak 4 hingga 6 September 2024. (yas)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































