Mengapa TNI AL Ditawari Rudal SM39 Ketimbang SM40 Jangkauan 120 Km Buat Scorpene?

Paris, IDM - Pilihan jenis senjata untuk dua unit kapal selam Scorpene Evolved milik TNI AL memicu sorotan. Produsen pertahanan asal Prancis, MBDA, menyodorkan rudal antikapal Exocet SM39 Block 2 Mod 2 ketimbang varian SM40 yang punya daya jelajah lebih jauh hingga 120 kilometer.
MBDA menilai penawaran SM39 menjadi pilihan paling realistis untuk mengejar jadwal operasional dan pengerjaan armada kapal selam Indonesia.
Head of Naval Systems MBDA, Stefano Bertuzzi, mengungkapkan pertimbangan utama pemilihan jenis rudal ini terletak pada kepastian waktu pengiriman (delivery timeframe). Varian SM40 masih membutuhkan proses riset lanjutan dan skema pendanaan bersama pemerintah Prancis, sedangkan lini produksi SM39 sudah beroperasi aktif di pabrik Selles-Saint-Denis.
"Masalahnya, saat kita berkomitmen dengan pembeli, ada tanggal pengiriman yang harus dipenuhi tepat waktu. Makanya untuk Indonesia kami menawarkan SM39 Block 2 Mod 2. Saat ini kalau datang ke pabrik MBDA di Selles-Saint-Denis, yang sedang ada di jalur produksi adalah SM39 Block 2 Mod 2," kata Stefano di Paris, Prancis, Senin (5/10).
Baca Juga: Daftar Lengkap Nomor Batalion dan Lokasi Markas Baru Brigif 6 Marinir
Perbandingan kemampuan kedua rudal tersebut memang terbilang signifikan dari segi jangkauan. Varian SM40 memanfaatkan sistem pendorong mesin turbo (turbo propulsion) yang sanggup menerbangkan rudal hingga jarak 120 kilometer. Sementara itu, SM39 mengandalkan mesin pendorong roket dengan jarak tempuh yang lebih pendek.
Meski kalah dalam jarak jelajah, MBDA menjamin varian SM39 Block 2 Mod 2 tidak kalah canggih dari segi presisi dan ketahanan tempur. Varian ini membawa teknologi pemandu gelombang radio pintar (coherent seeker) yang menjaga akurasi tembakan sekaligus kebal dari acakan sinyal elektronik musuh (anti-jamming).
Stefano menyebut penawaran varian SM39 juga mempertimbangkan kesiapan pengadaan kapal selam itu sendiri. Penjualan amunisi persenjataan bawah air selalu berjalan selaras dengan paket penjualan unit kapal selamnya.
Baca Juga: Rotasi dan Mutasi TNI: Letjen Iwan Setiawan Pangkostrad, Letjen Tri Budi Utomo jadi Wakasad
"SM40 atau SM39 ini berjalan bersama kapal selamnya. Jika Naval Group menjual kapal selam, kami menjual rudalnya. Penjualan kapal selam di seluruh dunia itu tidak terjadi setiap tahun, makanya berjalan bertahap," tutur Stefano.
Ia juga menegaskan, MBDA tidak bisa memaksakan varian yang belum siap secara linimasa produksi massal jika pemesan membutuhkan kepastian jadwal penyerahan unit.
"SM40 itu untuk program jangka panjang. Kalau untuk kebutuhan Indonesia saat ini, yang paling pas dan siap dikirim sesuai jadwal adalah SM39 Block 2 Mod 2," lanjutnya.
Penawaran varian SM39 ini sekaligus melengkapi kepastian proyek pengadaan persenjataan armada bawah air Indonesia. Pemerintah Indonesia memegang kendali penuh atas ritme pengadaan amunisi tersebut, yang keputusannya diprediksi baru rampung pada awal 2027 mendatang.
Baca Juga: Rudal Exocet SM39 Kapal Selam Scorpene TNI AL Diprediksi Final Awal 2027
"Kemhan RI yang menentukan ritme program ini. Pandangan saya, kemungkinan awal tahun depan, awal 2027, baru ada pengumuman atau kepastian mengenai amunisinya," ungkap Stefano.
Sementara itu, pengerjaan fisik dua unit kapal selam Scorpene Evolved berbobot 1.800–2.800 ton tersebut terus menunjukkan progres signifikan di Surabaya. PT PAL Indonesia bersama Naval Group melangsungkan pemotongan baja pertama (first steel cutting) pada Juli 2026, lebih cepat dari target awal pada September 2026.
Percepatan ini terwujud setelah PT PAL menyelesaikan tahap verifikasi kualifikasi (qualification section) untuk memastikan kesiapan fasilitas, manufaktur, dan standar mutu. Lewat skema alih teknologi komprehensif yang melibatkan puluhan insinyur lokal lulusan pelatihan di Prancis, PT PAL ditargetkan mampu membangun kapal selam secara utuh di dalam negeri (whole local production) sekaligus menyerap lebih dari 2.000 tenaga kerja.
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































