HANKAM

Menang Tanpa Adu Kekuatan, Ini Alasan RI Harus Pakai Strategi Asimetris di Laut

Ilustrasi
Ilustrasi kawasan pertahanan anti-akses (A2/AD) Cina di Laut Cina Selatan dan Samudra Pasifik. (Foto: Dok. MDAA)

Jakarta, IDM – Anggaran pertahanan yang terbatas membuat Indonesia sulit menandingi kekuatan militer negara adidaya secara seimbang. Namun, kondisi ini bukan alasan bagi Indonesia untuk kalah gertak di laut.

Direktur Eksekutif Lembaga Studi Pertahanan dan Studi Strategis Indonesia (Lespressi) Rizal Darma Putra menilai Indonesia harus cerdik memanfaatkan keunggulan geografis laut kepulauan. Penguasaan alur laut strategis menjadi kunci utama dalam menerapkan strategi keseimbangan asimetris (asymmetric balancing).

"Keseimbangan asimetris itu bisa dilakukan. Kita tidak harus merespons kekuatan besar secara apple-to-apple, melainkan dengan membangun kekuatan asimetris memanfaatkan keunggulan wilayah perairan kita," kata Rizal dalam diskusi di YouTube Semar Sentinel, Jakarta, Selasa (28/7).

Baca Juga: Kecolongan Drone Bawah Laut, Kenapa Malah Nelayan yang Sering Temukan?

Rizal mencontohkan ketangguhan Iran di Selat Hormuz yang sanggup merepotkan armada tempur utama Amerika Serikat. Meski kalah dari segi jumlah alutsista konvensional, Iran mampu mengunci lawan lewat penguasaan titik sempit maritim.

Sebab itu, Indonesia dinilai perlu memfokuskan doktrin pertahanan pada taktik penolakan akses dan penolakan area (Anti-Access/Area Denial atau A2/AD). Strategi hemat biaya ini bertujuan menghadang sekaligus menutup ruang gerak armada asing agar tidak semena-mena menerobos perairan kedaulatan NKRI.

"Antiakses itu bagaimana supaya lawan tidak bisa masuk ke dalam teritori kedaulatan kita. Sementara area denial adalah tindakan membatasi gerak lawan setelah mereka terlanjur masuk," ujar Rizal.

Menurut Rizal, benteng bawah air (subsurface deterrence) menjadi bagian paling krusial dari penerapan strategi A2/AD. Kehadiran kapal selam penjelajah samudra (ocean-going submarine) terbukti ampuh menjadi pencegat taktis sebelum musuh sempat mendekati daratan Indonesia.

Baca Juga: Kemhan: 961,33 Hektare Kawasan Hutan akan Dimanfaatkan jadi Markas Yon TP

"Pilihan bagi Indonesia adalah membangun kekuatan pada titik-titik yang bisa dikembangkan dalam antiakses dan penolakan area. Daya tangkal bawah air (subsurface deterrence) sangat efektif diterapkan dari konsep besar A2/AD ini," tegasnya.

Taktik kapal selam berdaya jelajah jauh (ocean-going) ini bakal makin mematikan jika dipadukan dengan pertahanan berlapis. Pemasangan drone laut, ranjau, hingga jaringan sensor bawah air di Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) otomatis menyulap perairan Nusantara menjadi 'labirin' maut bagi kapal penyusup.

Rizal menambahkan, posisi ALKI juga memberi Indonesia kekuatan hukum internasional berdasarkan UNCLOS untuk mengendalikan lalu lintas laut. Lewat perpaduan hukum maritim dan taktik asimetris ini, Indonesia sanggup menjegal ancaman hegemoni asing tanpa harus menguras kantong negara.

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Helikopter Mi 17V5

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD

TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.