Membanggakan, Puluhan Prajurit Garuda Naik Pangkat di Luar Negeri

Jakarta, IDM - Puluhan prajurit dari Satuan Tugas (Satgas) FHQSU TNI Konga XXVI-O1 UNIFIL dan Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-Q/Unifil mendapatkan kenaikan pangkat di tempat tugas mereka di luar negeri.
Total ada 73 orang anggota satgas yang berada di Lebanon Selatan.
Dilansir dari keterangan resminya PMPP, Senin, (3/4) dijelaskan bahwa ada 22 orang anggota Satuan Tugas FHQSU TNI Konga XXVI-O1 UNIFIL yang terdiri dari 1 Pama, 19 Bintara, 2 Tamtama dan 1 Pamen yang naik dari pangkat Mayor ke pangkat Letkol, DCO Indomedic Lv. II Hospital Naqoura.
Selanjutnya ada sebanyak 51 Prajurit Satgas Yonmek TNI Konga XXIII-Q/Unifil terdiri dari 34 prajurit golongan bintara dan 17 prajurit golongan tamtama mendapatkan kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi dari pangkat sebelumnya pada saat melaksanakan tugas misi sebagai penjaga pemeliharaan perdamaian di Lebanon.
Baca Juga: Jelang Libur Lebaran, Lantamal III Siapkan Bus Mudik Gratis
"Hal ini merupakan dedikasi yang tinggi dan kebanggaan atas kenaikan pangkat di daerah penugasan operasi luar negeri. Pelaporan kenaikan pangkat dilaksanakan dengan upacara militer yang dilaksanakan," tulis PMPP. (rr)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































