Masih Dalam Tahap Negosiasi, KSAD Ungkap Kondisi Pilot Susi Air Sehat

Jakarta, IDM - Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mengatakan saat ini Mabes TNI terus melakukan upaya negosiasi terkait pembebasan pilot Susi Air Philipp Mehrtens.
Baca Juga: KSAD: Prajurit Harus Mampu Menjawab Pertanyaan Media Terkait Persoalan Institusi TNI
"Selama ini yang saya lihat berdasarkan informasi intelijen mungkin berkoord dengan BIN dan lain sebagainya bahwa belum stabil komunikasinya," kata KSAD kepada wartawan usai acara Natal bersama Mabesad di Balai Kartini, Jakarta Selatan, Senin, (5/4).
Ia menjelaskan selama ini juga TNI AD punya keterbatasan untuk mendapatkan seluruh informasi karena tingkatnya adalah pembinaan kekuatan jadi yang mengkoordinir semua adalah Panglima TNI.
Baca Juga: KSAD di Perayaan Natal: Kegiatan Bernilai Strategis di AD Akan Dilanjutkan
"Kalau saya mengikuti perkembangan dari Mabes TNI kita terus melakukan upaya-upaya negosiasi itu yang saya dengar informasinya, jadi perlu waktu untuk bertemu, namun informasi terakhir pilot tersebut dalam keadaan sehat," kata Maruli. (rr)
Hankam

Pengerahan 20 Ribu Prajurit TNI AL ke Jakarta: Siaga Ibu Kota dan Latihan di Tanjung Burung
TNI AL mengerahkan sebanyak 20.980 prajurit ke wilayah DKI Jakarta dan daerah penyangga. Pengerahan skala besar ini berfungsi untuk mempertebal pengamanan objek vital sekaligus mempersiapkan rangkaian latihan pendaratan amfibi.
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































