Marinir dan Komando Operasi Khusus Australia Diskusi Rencana Latihan Bersama

Jakarta, IDM - Korps Marinir dan delegasi Komando Operasi Khusus atau Special Operation Commander Australia (Socaust) membahas rencana peluang latihan bersama, Jakarta, Kamis (22/6).
Hal tersebut dibahas saat Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayjen TNI (Mar) Nur Alamsyah, menerima kunjungan Komandan Komando Operasi Khusus Australia Mayjen Paul Kenny beserta rombongan delegasi negara tersebut.
Baca Juga: Prajurit TNI AL Ini Jadi Perwakilan Forum Maritime Trafficking Routes-Southeast Asia di Thailand
Setelah menyambut kedatangan Paul, Nur Alamsyah mengajak tour facility delegasi dan menyaksikan demo Detasemen Jalamangkara (Denjaka), di antaranya circuit training, K9, climbing, rapeling tower, serangan kilat, dan ship boarding.

Dalam sambutannya, Nur Alamsyah memperkenalkan para pejabat utama Korps Marinir dan Denjaka serta penjelasan singkat lingkup Korps Marinir.
Baca Juga: Tambah Kekuatan Perwira, TNI AU Lantik 192 Personel Lulusan Setukpa Angkatan ke-28
Sementara itu, sambutan perkenalan oleh Paul, tentang pembahasan masalah diskusi rencana peluang latihan bersama dan penjelasan mengenai Komando Operasi Khusus Australia. (at)
Hankam

Nama Dua Prajurit yang Tewas dalam Kecelakaan Helikopter TNI AD
TNI Angkatan Darat memberikan keterangan terbaru terkait kecelakaan Helikopter Mi 17V5 saat melaksanakan operasi pemadaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di perairan Desa Sungai Perlu, Kecamatan Danau Sembuluh, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah, Rabu (4/11).
Teknologi

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia
Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.
In Frame

History

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat
Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.







































































