HANKAM

Longsor Cisarua: 9 Prajurit Marinir Masih Dicari, Jenazah Praka Andiko Dievakuasi

Prajurit Korps Marinir.
Suasana khidmat upacara pelepasan jenazah Praka Mar (Anm) Andiko Affiari Rahmat secara militer di Lanudal Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Kamis (5/2). (Dok. Dispenal)

Jakarta, IDM – TNI AL kembali mengevakuasi satu jenazah prajurit Korps Marinir korban longsor di Cisarua, Bandung Barat. Dengan penemuan ini, tim SAR gabungan telah berhasil menemukan total 14 jenazah, sementara 9 prajurit lainnya masih dalam tahap pencarian.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut (Kadispenal) Laksma Tunggul menjelaskan perkembangan terbaru operasi SAR tersebut. Ia menyebut tim gabungan terus bekerja keras menyisir lokasi di tengah medan yang sulit untuk menemukan sisa korban."

Baca Juga: Indonesia Tanda Tangani “Letter of Intent” Pengadaan Jet Latih Tempur M-346 dari Italia

"Hingga Rabu (4/2), Korps Marinir secara bertahap telah melepas 14 jenazah prajurit, termasuk yang terbaru hari ini, Praka Mar (Anm) Andiko Affiari Rahmat. Saat ini, tim SAR gabungan TNI-Polri masih mengerahkan upaya maksimal untuk mencari 9 prajurit lainnya yang belum ditemukan," kata Tunggul dalam keterangannya, dikutip Kamis (5/2).

Asisten Personalia Panglima Korps Marinir (Aspers Pangkormar) Brigjen (Mar) Ludi Prastyono memimpin langsung upacara pelepasan jenazah Praka Andiko secara militer di Lanudal Pondok Cabe, Tangerang Selatan. Pasukan upacara memberikan penghormatan terakhir kepada almarhum sebagai bentuk penghargaan atas pengabdiannya selama berdinas sebagai prajurit Jalasena.

Prajurit Korps Marinir.
Peti jenazah almarhum Praka Andiko saat dimasukkan ke dalam pesawat TNI AL untuk diterbangkan menuju kampung halaman di Padang Pariaman, Sumatra Barat. (Dok. Dispenal)

TNI AL kemudian menerbangkan jenazah Praka Andiko menggunakan pesawat udara menuju kampung halamannya di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatra Barat, untuk proses pemakaman. Prajurit dari Yonif 9 Marinir ini gugur dalam tugas pada usia 24 tahun.

Kronologi dan Latar Belakang Kejadian

Musibah longsor ini terjadi ketika para prajurit Marinir tengah melaksanakan latihan pratugas satuan tugas pengamanan perbatasan (satgas pamtas) RI-PNG di kawasan Cisarua, Bandung Barat. Cuaca ekstrem dan curah hujan tinggi memicu longsoran material yang menimbun personel di lokasi latihan.

Baca Juga: Komlek Kostrad Ubah Area Tidak Produktif Menjadi Lahan Hijau

Tunggul menegaskan, TNI AL terus berpacu dengan waktu. Penemuan jenazah Praka Andiko menambah jumlah korban yang terevakuasi, setelah sebelumnya tim SAR menemukan jenazah Serma Mar (Anm) Afriyansyah dan Praka Mar (Anm) Heru Susanto pada Senin (2/2) lalu.

TNI AL menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga yang ditinggalkan dan memastikan seluruh proses pemulangan jenazah berjalan dengan penghormatan militer penuh. (at)

PERTAHANAN NASIONAL

Hankam

LIHAT SEMUA
Prajurit Denjaka

Deretan Senjata Tempur Denjaka untuk Operasi Khusus Aspek Laut

Di balik nama Detasemen Jalamangkara (Denjaka), tersimpan daya gempur yang ditopang oleh persenjataan lintas platform. Satuan elite penanggulangan teror aspek laut TNI AL ini mengandalkan beragam senapan dan pistol khusus dari berbagai negara untuk menuntaskan misi di tri-matra.

INOVASI & ALUTSISTA

Teknologi

LIHAT SEMUA
Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Canggih! Robot Lidik Denzinubika Siap Hadapi Ancaman Nuklir dan Kimia

Detasemen Zeni Nuklir, Biologi, dan Kimia (Denzinubika) memperkuat kapabilitas operasionalnya dengan menggelar uji fungsi Robot Lidik Nubika di Bogor. Kehadiran teknologi robotik modern ini disiapkan untuk mendukung penyelidikan berisiko tinggi sekaligus meminimalkan ancaman di lapangan.

VISUAL DISPATCH

In Frame

LIHAT SEMUA
ARSIP & SEJARAH

History

LIHAT SEMUA
Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Kisah Ilyushin Il-28T ALRI, Pesawat Pembom Torpedo yang Ditakuti Blok Barat

Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI) pernah mengoperasikan armada udara pemusnah yang ditakuti kekuatan militer barat. Di tengah berkecamuknya dinamika pertahanan dekade 1960-an, barisan jet pembom buatan Uni Soviet disiagakan untuk menjaga kedaulatan maritim nasional dari ancaman kapal perang musuh.